Friday, August 7, 2015

Taman Firdaus

                               
Ke mana mencarinya? Ke  masa lalu, ke zaman
Adam? 

Bukan,  ke  Taman Cibodas saja, jawab si upik.

Bukan, firdaus ada di Roxy ketika orang menghirup harumnya  masakan yang sedang disiapkan di  kedai-kedai makan, kata si buyung.

Bukan, firdaus ada dalam sebuah kursi malas ketika saya berusaha sekuat-kuatnya menahan kantuk,  lalu tak tertahankan lagi, tertidur, kata pak Arif.

Bagi  sang Pemulung, ketika  memboyong sang Gadis dalam gerobaknya,  meski hanya dengan sebungkus  rezeki, tanpa  sebuah tikar, tinggal, tidur bersama di gerobak itu, disitulah taman firdausnya.

Apalah  sebuah  oasis  di  dalam  sebuah firdaus?
Sebuah oasis adalah sebuah taman firdaus di gurun pasir, kata seorang.

Bukan,  firdaus  ada dalam mata  kekasihnya, sang tunangan membatin.

Bukan,  firdaus ada dalam pelukan ibu,  kata sang bayi.

Bukan,  firdaus  ada  dalam  nyanyian,  kala yang mendengar  sampai terdiam, kata entah siapa  namanya.

Dan saya pun melamun, menimbang-nimbang, menghibur diri.  Kalau pun  saya sampai tidak bisa  mendapat bagian  dalam  kebahagiaan  surga,  mestikah  saya menyesal?  Saya  telah "melihat  surga  di  dalam sekuntum  bunga liar" seperti  dikatakan  seorang pujangga.

Saya  bahkan  pernah  melihat  firdaus   di dalam baskom  bekas  air cucian ketika sepasang  burung merpati dengan bahagia mandi bersama. 

Ah,  firdaus ada di mana-mana. Saya tetap akan bersyukur,  berbahagia  diberi kesempatan untuk  tinggal,  hidup, menikmati firdaus-firdaus yang disediakanNya  bagi kita masing-masing disini.                                  

Juni 1997

No comments:

Post a Comment