Ke mana mencarinya? Ke masa lalu, ke zaman
Adam?
Bukan, ke Taman Cibodas saja, jawab si upik.
Bukan, ke Taman Cibodas saja, jawab si upik.
Bukan, firdaus ada di Roxy ketika orang menghirup harumnya masakan yang sedang disiapkan di kedai-kedai makan, kata si buyung.
Bukan, firdaus ada dalam sebuah kursi malas ketika saya berusaha sekuat-kuatnya menahan kantuk, lalu tak tertahankan lagi, tertidur, kata pak Arif.
Bagi sang Pemulung, ketika memboyong sang Gadis dalam gerobaknya, meski hanya dengan sebungkus rezeki, tanpa sebuah tikar, tinggal, tidur bersama di gerobak itu, disitulah taman firdausnya.
Apalah sebuah oasis di dalam sebuah firdaus?
Sebuah oasis adalah sebuah taman firdaus di gurun pasir, kata seorang.
Bukan, firdaus ada dalam mata kekasihnya, sang tunangan membatin.
Bukan, firdaus ada dalam pelukan ibu, kata sang bayi.
Bukan, firdaus ada dalam nyanyian, kala yang mendengar sampai terdiam, kata entah siapa namanya.
Dan saya pun melamun, menimbang-nimbang, menghibur diri. Kalau pun saya sampai tidak bisa mendapat bagian dalam kebahagiaan surga, mestikah saya menyesal? Saya telah "melihat surga di dalam sekuntum bunga liar" seperti dikatakan seorang pujangga.
Saya bahkan pernah melihat firdaus di dalam baskom bekas air cucian ketika sepasang burung merpati dengan bahagia mandi bersama.
Ah, firdaus ada di mana-mana. Saya tetap akan bersyukur, berbahagia diberi kesempatan untuk tinggal, hidup, menikmati firdaus-firdaus yang disediakanNya bagi kita masing-masing disini.
Juni 1997
Juni 1997
No comments:
Post a Comment