Monday, August 17, 2015

Pria Punya Selera


 "Pisangkah?"

"Bukan."

"Durenkah?"

"Bukan pula, melainkan rokok. Rokok itu pria punya  selera menurut iklan yang terpampang dimana-mana."    Meski nikmat, mesra, eksklusif kata orang,  tetapi kalau saya sebagai pria punya selera, malah merasa lebih nikmat, lebih mesra, lebih eksklusif,  lebih energik, lebih diilhami jika ditemani wanita dari pada ditemani rokok. Lagi pula, segagah, seperkasa apapun,  seorang pria tidak lebih  laki-laki  jika
tidak  didampingi  perempuan, bukan  karena tidak didampingi  rokok,  atau kuat minum bir, berjas, bahkan ber-Mercy. 

Tiada aib yang lebih besar bagi pria, selain tidak "dilihat"  wanita, karena hanya wanitalah yang bisa mengangkat  pria menjadi laki-laki  sejati,  bukan rokok.  Alangkah beruntungnya pria, jika ia kejatuhan bulan,jatuh dalam kehangatan peluknya, jika ia beruntung  menarik hadiah utama undian hidup,  diizin­kan mengecupnya. Apalah artinya hangat rokok  atau mengecup  kopi kental? Dan ia masih  akan  memilih wanita ketimbang memilih menjadi presiden. 

Pria punya selera? Jelaslah wanita, Hawa, woman, vrouw.                   

Bisnis Indonesia, 12  April 1991

No comments:

Post a Comment