Sunday, August 9, 2015

Masa Ke-emasan Seorang Anak

Masa Ke-emasan Seorang Anak 


 Katanya:  Alangkah  senangnya belajar jika pendidikan  dasar mengacu  pada  kemampuan membaca, menulis dan berhitung saja tanpa terlalu  diembeli begitu banyak pelajaran lain. Lalu bukan  orang  tua, masyarakat  kok  yang harus  belajar,  diuji  dan menanggung  malu jika ia gagal. 

Apa dengan kurikulum yang canggih, plus les tambahan,  PR yang banyak, memburu sekolah favorit,  PTN terkemuka,  ia  mau cepat-cepat dijadikan  jagoan iptek,  eksekutif, pejabat tinggi,  profesor berkwalitas interna-sional? 

Dan  duduk di pohon laksana burung bebas rasanya, ketimbang  di kurung di kelas di atas bangku;  dan meski  bertengger  diatas dahan, lebih  empuk  dan nikmat dari kursi atau sofa apapun. 

Setiap  kali  berhasil menangkap,  memancing ikan  diselokan atau dikali, itu lebih mengasyikkan  dari pada  penangkapan ikan raksasa, tetapi yang  hanya diceritakan dalam buku, diberitakan koran.  Makan mangga muda, atau buah lain hasil "menembak" dengan katapel, rasanya lebih manis dari buah-buah manis yang disajikan ibu di meja makan. 

Melihat lampu seekor kunang-kunang saja jauh lebih memikat dari pada kerlap-kerlip warna-warni lampu-lampu pohon natal dan mendengar nyanyian cengkerik seriringan  di kaleng, lebih merdu dan indah  dari nyanyian malaikat sekalipun.  

"Berlanglang  buana" berbekal satu  sen mengintai bajing, burung tekukur, alap-alap, bunglon, kadal, menangkap laba-laba pohon, kalajengking,  memburu kupu-kupu, capung, kura-kura, yuyu, melihat sarang berisi anak burung, lalu minum es cincao atau  me­ngecup es gantung di bawah pohon, itu lebih mengasyikkan dari pada bertamasya ke kebun binatang. 

Dan  bermain layangan, main gasing, congklak, nabun membakar jagung, memelihara ayam, ikan,  kelinci dan seribu satu kesenangan lain.  

Bukan  anak-anak  saja yang harus  belajar. Kata orang,  - bisiknya - yang dewasa pun masih  harus banyak belajar dari kepolosan, kemurnian, imajinasi­ dan kebahagiaan anak-anak, tanpa bayar,  tidak diwajibkan lagi. 

Masa kanak-kanak hanya datang sekali,
Tak pernah akan ia kembali lagi. 

Semacam itulah "kerajaan surga" milik anak-anak. 
                                   
Jayakarta, 1 Juni 1992

No comments:

Post a Comment