Tuesday, August 25, 2015

Madu Tetap Saja Manis Sayang

"Madu Tetap Saja Manis, Sayang"
Seindah,  semanisnya buah pikiran,  buah lamunan,  buah rindu, buah hati,  lebih indah, lebih  manis­lah ...  "Buah bibir, buah mangga si manalagi, buah si malakama," si upik bersenda gurau. 

Teringat sang Pangeran menggoda: 
"Madu tetap  saja manis, sayang, meski orang menyebutnya pahit. Coba tebak. Siapa lebih bahagia, engkau atau aku?" 

Tak memberi kesempatan menjawab, Sang Pangeran berbisik  pada sang Puteri,  "Aku. Karena aku lebih, eh ... lebih mencintaimu." 
Wow,  mereka tentu bukan berlomba dalam apa  yang umumnya dilombakan orang dengan bersaing, menekan, menyakitkan, menyudutkan lawannya, melainkan sebaliknya.  
Alangkah  manisnya  berlomba, bertengkar dalam membawakan kebahagiaan sebesar-besarnya bagi pasangan,teman  hidupnya. 

Nah, semanis itulah  buah  kasih sayang. 

Dalam surga kasih sayang, orang justru lebih berbahagia dalam membawakan  bahagia, berkat, rezeki, keselamatan  bagi pasangan, insan yang  disayangi­nya.  Bagi  orang yang dengki, dendam, iri,  surga  adalah  ...  

"Berhasil menjatuhkan  mencelakakan, eh ... menjebloskan orang yang dibencinya ke dalam 'neraka' Ha. Ha. Ha."  si upik menjawab.    
April 1997, Swara (Kompas) 7 Oktober 1999  

No comments:

Post a Comment