Untung kaum Adam tidak ikut-ikutan mendirikan sesuatu yang namanya Maskulinisme, aliran serupa Feminisme (gerakan wanita), cuma yang diperjuang-kan hak-hak, kepentingan laki-laki, bukan kaum perempuan.
Kalau dipikir, apa enaknya masuk klub kaum bapak, asrama atau kumpulan orang laki-laki, menganut ajaran, faham laki-laki yang gersang begitu.
Tidak seperti induk ayam kampung yang bahagia mengasuh anak-anaknya, induk ayam bibit unggul yang secara terus menerus dibiasakan, dipaksakan bertelur, dewasa ini telah kehilangan nalurinya untuk mengeram dan mengasuh anak-anaknya. Jika setiap hari diadu, bagaimana jika ayam betina tahu-tahu bisa berkukuruyuk dan menumbuhkan jalu?
Bayangkan kalau keinginan kaum wanita untuk disamakan dengan pria benar-benar terkabul, lalu kehilangan sifat feminine, kewanitaannya?
“Nah, kata pak Arif, “kalau orang laki-laki yang terus menerus cuma bercampur, berurusan dengan/demi kaumnya saja, lama kelamaan harus kehilangan kepekaan nalurinya terhadap pesona, daya tarik kaum Hawa, lebih baik saya tidak dilahirkan saja.”
“Syukur ada hari "Valentine" (hari para kekasih), untuk merayakan, memgenang hari-hari semasa berpacaran, memadu kasih, sebagaimana dinyanyikan, dilayar-emaskan, diabadikan para seniman dan dirayakan umat hidup alam semesta.
“Laki, perempuan atau jantan, betina, tidak diciptakan untuk dijadikan saingan, atau untuk hidup bermusuhan bagaikan kucing dan anjing.”
Jayakarta, 27 April 1995
No comments:
Post a Comment