Saturday, August 8, 2015

Pahlawan-Pahlawan Masa Damai

Pahlawan-Pahlawan Masa Damai

Rasa iba terhadap sesama insan membe-ranikan pemuda SMA untuk mengangkat anak kucing sekarat di tengah lalu lintas yang sedang ramai-ramainya ke tepi jalan yang aman. Rasa bahagia menghangati hati sang pemuda karena telah melakukan itu.  Mentang-mentang ia hanya anak kucing. 

Apa salahnya kalau ia ditakdirkan lahir sebagai kucing, bukan manusia. Konon, di negeri Belanda, untuk pawai katak-katak pun yang ingin menyeberangi jalan, polisi sampai menghentikan lalu lintas. Kalau saja ia ditakdirkan lahir di sana.

Saya teringat kenalan saya 30 tahun yang lalu, seorang nyonya Belanda yang sudah bungkuk dimakan usia. Saya diajak ke rumahnya, yakni bukan rumah, melainkan gudang gelap yang menunggu dirobohkan antara puing-puing reruntuhan. Ia disambut hiruk-pikuk anjing-anjingnya, bekas anjing kampung yang terlantar,yang dipungutnya dari pinggir jalan.

Berpakaian dan bersepatu butut, tertatih-tatih dengan tongkatnya, ia setiap hari jalan, lalu memanjat tangga trem menuju pasar Glodok untuk mengumpulkan sisa tulang buangan untuk bisa menghidupi anjing-anjingnya. Kalau untuk mereka, tiada kerja yang terlalu hina, jijik, berbahaya, maupun berat.

Ketika ia ditawarkan untuk pulang ke negeri Belanda dengan pensiun, tempat tinggal yang terjamin, ia malah memilih tinggal di Jakarta dengan anjing-anjingnya. Terkenang kisah Yudistira yang menolak masuk kayangan, hanya karena ia harus meninggalkan anjingnya. Dan karena anjing-anjingnya pulalah, nyonya itu memilih ingin hidup dari cepat-cepat masuk surga.

Ah, memang, hanya di mata seekor anjing, ia, majikannya tak pernah menjadi tua, melainkan tetap cantik, kaya, bagai malaikat Tuhan yang mulia.

Lain lagi cerita seorang yang mengorbankan salah satu ginjalnya untuk menyelamatkan kakaknya. 

Lalu apa kata Anda tentang mereka yang harus berjuang menghidupi keluarga atau diri sendiri, meski itu berarti harus terjun sampai mau menjadi pemulung atau sebangsanya. Lapangan kerja yang terpaksa diciptakan mereka untuk bisa bertahan hidup. 

Yang disebut Hak-hak Azasi Manusia tak dapat menjamin adanya pekerjaan bagi setiap orang, kebebasan memilih pekerjaan, upah yang layak untuk hidup karena besarnya pengangguran.

Pahlawan-pahlawan di masa damai ini lemah-lembut, tak berpedang, tak disanjung-sanjung, tak ternama, tak disyairkan, tanpa patung. Mereka cenderung luput dari perhatian orang, tetapi mata yang jeli tentu bisa menemukan mereka di sekeliling kita, dari anak kecil sampai yang berusia amat lanjut, baik laki-laki maupun perempuan.

Bersenjatakan kasih sayang, malaikat-malaikat ini mengilhami kita dengan keberanian dan pengorbanan mereka.

Tanpa perlu diperingati dengan hari pahlawan, mereka diingat, sebab yang disayangi selalu hidup kembali dalam ingatan dan kenangan kita.

Media Indonesia, 15 Desember 1991 

No comments:

Post a Comment