Wednesday, August 26, 2015

Pak Arif

Entah Kapan Tuhan Membisikkan, Membuka RahasiaNya

Jelas, pasti, setiap orang, setiap ciptaanNya sangat-sangat hebat, kalau tidak Sang Pencipta payah, bodoh.

Bayangkan, bagaimana menciptakan orang kalau anda “buta”, tak pernah melihat, tahu, apa orang itu, apa mata itu, apa telinga itu, lidah itu, kaki itu, otak, tulang, gerak, suara, ingatan, hidup, mati, ... itu?

Tapi Tuhan kata: “Ah, gampang, Aku tidak melakukan apa-apa, membiarkan semuanya berjalan, berubah, menjadi seperti yang ada, yang hidup sekarang ini, melalui milyaran tahun. Ha. Ha.”

Tapi bagaimana Ia menciptakan diriNya berikut jagad raya dari tidak ada (kosong) menjadi ada (isi), ada hidup, cuma Dia yang tahu, yang bisa. Entah kapan Ia akan membisikkan, membuka rahasiaNya.

Pebruari 2014


Hak Setiap Orang Untuk Memiliki Dirinya.
Orang tua bukan pemilik anak-anaknya.
Istri bukan milik Suami, Suami bukan milik istri. 

Mereka hanya menjadi milik kalau mereka menyerahkan diri mereka:
"Ibu milikmu" kata sang ibu pada anaknya.
"Aku milikmu" kata sang istri pada suami dan sebaliknya.

Sepasang merpati tak dapat dibujuk untuk bercerai, sedangkan sepasang anjing tak dapat dipaksa untuk setia seumur hidup pada pasangannya. Entah bagaimana pasangan manusia.

Juni 2009

Keberanian Menjadi Diri Sendiri, Berlainan

Kalau semua orang merokok, minum bir, ada orang engga merokok, engga minum bir dia itu berani. 

Kalau semua orang engga merokok, engga minum bir, tapi ada orang merokok, minum bir, dia itu juga berani. 

Berani menjadi diri sendiri, berani mempunyai pendapat, melakukan sesuatu yang berlainan. 

April 2010



Desember 2009




Tiada Apapun Yang Dapat Membuat Hati Saya Taat Selain Dengan Sukarela

Agama, pernikahan, Tuhan, manusia, aturan, hukum, perintah, ancaman tak dapat membuat hati saya taat, tak dapat menghalangi, melarang kecuali dengan sukarela. 

Nopember 2009

Kepada umat hidup,

Saya sudah berangkat ke alam baka dimana tidak ada lagi sakit, cacat, derita, duka, dengki, iri, musuh, kelaparan, menjadi tua, … Salam pamit.

Sampai jumpa.

Pak Arif

Begitu dia minta saya mengirim e mail ini kalau ia meninggal.

Mei 2010

Orang Tak Bisa Memilih Ibu-bapaknya

Kata seorang: 
“Oh Tuhan mengapa saya jelek, bodoh, sakit astma, kanker, diabetes, ...? Mengapa orang tua saya melahirkan saya kalau membawakan sifat keturunan yang begitu jelek?”

Adakah orang yang dapat menginginkan dirinya dilahirkan sebagaimana keinginannya sendiri? Orang tak bisa memilih ibu-bapaknya.”

“Nah, bagaimana kalau ibu-bapaknya kucing? Anda mau, tidak mau, lahir sebagai kucing. Ha, ha.” Si Upik nyeletuk.

Desember 2011


Impian Di Usia Senja

Meski telah menjaga sebaik-baiknya, makin banyak gigi saya yang rusak, tanggal dan tak bisa ditumbuhkan kembali. Namun, saya bersyukur pada gigi-gigi itu, yang telah melakukan tugasnya lebih dari setengah abad.
 
Kalau pun gigi saya sampai habis, saya masih bisa memakai gigi buatan, bak orang memakai wig. Kehilangan gigi saja, - orang buta malah kehilangan penglihatannya -, mengapa harus resah?

Hawking saja kehilangan kemampuan untuk bicara dan lumpuh. Otaknya begitu cemerlang. Ia masih sanggup memberi kuliah, ceramah dan menulis buku-buku ilmiah.Yang masih saya miliki dan tersisa, tak terhitung nilainya dan begitu banyak ketimbang apa yang telah hilang dan rusak.

Begitu kata saya pada pak Arif.

Benar, bersyukurlah, katanya. Kita patut bersyukur untuk pemberian mata, demi mengetahui apa merah, putih, bundar, persegi, besar, kecil.

Untuk telinga, demi mengenal apa suara lembut, kuat, nada tinggi, rendah.

Untuk lidah, agar tahu bagaimana rasanya asin, manis, asam, pahit, gurih.

Untuk hidung, selain untuk bernafas, agar tahu apa harum itu, apa berbau busuk.

Untuk tangan, kaki, yang memegang, menyentuh, memeluk, bekerja, berjalan, berlari, memanjat, berenang, menari.

Untuk otak, agar bisa mengingat, mengenang, melamun, menkhayal, bernalar.

Untuk hati, agar tahu betapa indahnya mencintai, bermimpi, pedihnya merindu, tahu antara yang baik dan buruk, antara suka dan duka, mau pun bersyukur untuk kelamin, yang membedakan dan menyatukan pria dan wanita dalam pasangan.

Apa yang diberikanNya tak dapat diukur uang sebesar apa pun. Selain menyelesaikan begitu banyak ragam tugas dengan setia setiap hari, mereka menyimpan seribu satu kejutan yang menyenangkan.

Mata saya telah melihat, membaca, memandang apa yang indah dan memesona, telinga saya telah mendengar musik, suara, nyanyian amat merdu, lidah merasakan apa yang amat lezat, hidung menghirup, mencium apa yang paling harum dan segar bak di surga saja.

Oh, hati saya telah merasa bahagianya hidup kala mencintai dan dicintai seorang. Betapa manisnya hidup ketika sama-sama berlomba, bertengkar untuk boleh berkorban dan berebut untuk saling memberikan apa yang terbaik dan terindah. Meski memiliki sedikit pun, yang sedikit itu terasa begitu berlimpah.

Pak Arif terdiam.

Terbayang hidup tanpa mata. Gelap, apa yang bisa dilihat?

Sunyi, tanpa telinga, apa yang bisa didengar.
Suram, tanpa penciuman, tanpa ingatan, tanpa jenis kelamin dan tanpa-tanpa lainnya.

Dan masih ada apa yang disebut kelahiran, hidup dan mati, lanjutnya. Tak terpikir, tak terbayangkan, tak terjangkau, Seniman maha akbar macam apa yang sanggup menciptakan jagat raya berikut segala isinya dan makhluk hidup secemerlang itu? Begitu serunya.

Dan saya pun tersentak, terjaga dari lamunan, bersyukur atas “impian” indah ini.
Epilog
Membaca tulisan diatas, si upik dengan tersenyum berkata:

Kita memang patut bersyukur dilengkapi dengan mata, telinga, hidung, perasaan, lidah, namun apa yang mau dilihat kalau tidak ada siang meski mempunyai mata?

Tidak akan ada bintang, kunang-kunang yang tampak jika tidak ada malam.

Bumi bagaikan beku, mati jika tidak ada gerakan seperti awan yang berlayar, air yang mengalir, pohon-pohon yang melambai, burung-burung yang terbang, ikan-ikan yang berenang, makhluk hidup yang merangkak dan bernafas.

Bumi akan dingin, jika tidak ada hangat, panas.

Hambar, membosankan, gersang jika tidak ada warna, keharuman dan rasa, meski dikaruniai mulut, hidung dan mata.

Dan setelah menciptakan Maha Karya ini, Ia tidak lupa menciptakan suara. Suara angin yang mendesau, suara ombak yang menderu, suara burung-burung yang berkicau, bunyi gamelan yang agung, suara sinden cantik yang merdu, bak pesta pujian, nyanyian, demi memecahkan kebisuan, kesunyian bumi. Tanpa
adanya suara, memiliki telinga pun menjadi sia-sia.

Suara Karya, 14 Desember 1996
 

Berita Buana, 24 Pebruari 1997

No comments:

Post a Comment