Lamunan Kemampuan Otak Manusia
“Kemampuan
komputer begitu hebat. Yang saya pakai, kuasai, belum sampai 1 % kalau
mengingat kemampuannya untuk: save, copy, paste, print, color, font,
delete, internet, download/upload gambar, foto, musik, menayangkan acara
TV, VCD, sebagai semacam telefoon dengan melihat lawan bicaranya …”
kata saya pada seorang ahli komputer yang sedang memperbaiki komputer
saya yang rusak.
“Kata seorang entah siapa, otak manusia juga amat
hebat, tapi yang digunakan dan apa yang dikuasainya entah,
paling-paling 10%”, jawabnya .
Kata-katanya terngiang-ngiang
berhari-hari. Dan menurut saya bukan hanya otak, juga kehebatan badan,
anggauta badan kita, tapi yang kita kuasai bukan sekedar 10% malah kalau
diperkirakan cuma 0,…%., hampir nol. Begitu besarnya, hebatnya potensi
(kemampuan yang dapat dikembangkan) setiap manusia.
Kemampuan otak dan badan manusia jauh melebihi komputer yang paling hebat. Otak kita juga yang menciptakan, menguasai komputer.
Bayangkan,
bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Timor, Batak, Toraja,
Aceh, Belanda, Inggris, Jerman Perancis, Cina, Rusia dan bahasa apapun
dari entah puluhan ribu bahasa yang ada di dunia dapat dipelajari setiap
orang, tapi yang dipakai, dikuasai orang paling-paling sepuluh bahasa.
Itu sudah lebih dari cukup. Alat-alat musik apapun dapat ia pelajari dan
mainkan, tetapi yang ia pakai dan kuasai paling-paling beberapa saja.
Ilmu pengetahuan apapun dapat ia pelajari tapi yang ia tekuni, kuasai
hanya beberapa saja. Belum lagi bidang seni, olah raga. Ia dapat belajar
membangun, mengendarai, mempro-duksi, mengolah, …
Saya pikir
masihkah ada orang “bodoh”? Kalau pun ada, saya rasa dia tidak/belum
sempat mengembangkan potensi yang ia miliki saja karena ia tidak
mempunyai kesempatan, tidak tahu memiliki potensi besar yang masih
tersembunyi, tertidur didalam dirinya. Ia tidak sadar bahwa ia
sebenarnya jauh lebih hebat dari dirinya sebagaimana dirinya sekarang
ini.
Potensinya mungkin tidak sempat dikem-bangkan, selain dibatasi
umur atau karena belum terbuka/ada kesempatannya, atau karena lahir
tidak pada zamannya. Mozart tak mungkin dapat mengembangkan bakat
musiknya kalau lahir di zaman belum ada musik yang seperti zaman
sekarang ini. Einstein tidak mungkin bisa menjadi ilmuwan kalau manusia
belum memiliki ilmu pengetahuan. Mereka akan dianggap orang-orang biasa
saja. Rudy Hartono tidak mungkin bisa menjadi juara bulutangkis jika
orang tidak mengenal permainan bulutangkis. Kalau tidak ada sepeda,
mobil, bagaimana orang bisa tahu kalau orang bisa menguasai, mengendarai
sepeda, mobil?
Mengingat ini, betapa banyak yang masih saya ingin
kuasai, nikmati. Bahasa Sunda untuk dapat menikmati Wayang Golek,
bahasa Cina untuk bisa membaca “Impian Di Ruang Merah”, belajar
astronomi untuk tahu perjalanan menakjubkan, sejarah bintang-bintang.
Belajar harmoni agar sanggup menciptakan musik, main piano, menyanyi
dengan baik, main ski, mendaki gunung, mengetahui aneka jenis tanaman
tanpa nama, mengetahui perihal binatang, ikan, burung, serangga … Tetapi
dengan hidup seribu tahun pun tak akan saya sanggup menyelesaikannya
dan menjadi seorang ahli dalam bidang seni, ilmu, bahasa, bidang apapun.
Bak mendaki gunung, meski sangat mele- tihkan, sangat berat, kadang-kadang
sangat berbahaya, saya rela melakukannya mengingat setiap kali
meningkat, setiap kali peman-dangan, firdaus baru yang menakjubkan
terbuka, tampak, dan kalaupun menyangka saya sampai puncaknya, puncak
baru sudah menghadang lagi.
Syukurlah, mungkin manusia tak akan pernah
bisa mencapai puncaknya.
Ibarat hanya memiliki beberapa pilihan
dari ribuan pilihan masakan yang paling istimewa yang tersedia dihadapan
kita.
“Jangan serakah, jangan rakus kalau mau menikmatinya.” Begitu
saya menasehati diri sendiri.
Nopember 2007
No comments:
Post a Comment