Sunday, August 9, 2015

Lamunan Kemampuan Otak Manusia

Lamunan Kemampuan Otak Manusia

“Kemampuan komputer begitu hebat. Yang saya pakai, kuasai, belum sampai 1 % kalau mengingat kemampuannya untuk: save, copy, paste, print, color, font, delete, internet, download/upload gambar, foto, musik, menayangkan acara TV, VCD, sebagai semacam telefoon dengan melihat lawan bicaranya …” kata saya pada seorang ahli komputer yang sedang memperbaiki komputer saya yang rusak.

“Kata seorang entah siapa, otak manusia juga amat hebat, tapi yang digunakan dan apa yang dikuasainya entah, paling-paling 10%”, jawabnya .

Kata-katanya terngiang-ngiang berhari-hari. Dan menurut saya bukan hanya otak, juga kehebatan badan, anggauta badan kita, tapi yang kita kuasai bukan sekedar 10% malah kalau diperkirakan cuma 0,…%., hampir nol. Begitu besarnya, hebatnya potensi (kemampuan yang dapat dikembangkan) setiap manusia.

Kemampuan otak dan badan manusia jauh melebihi komputer yang paling hebat. Otak kita juga yang menciptakan, menguasai komputer.

Bayangkan, bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Timor, Batak, Toraja, Aceh, Belanda, Inggris, Jerman Perancis, Cina, Rusia dan bahasa apapun dari entah puluhan ribu bahasa yang ada di dunia dapat dipelajari setiap orang, tapi yang dipakai, dikuasai orang paling-paling sepuluh bahasa. Itu sudah lebih dari cukup. Alat-alat musik apapun dapat ia pelajari dan mainkan, tetapi yang ia pakai dan kuasai paling-paling beberapa saja. Ilmu pengetahuan apapun dapat ia pelajari tapi yang ia tekuni, kuasai hanya beberapa saja. Belum lagi bidang seni, olah raga. Ia dapat belajar membangun, mengendarai, mempro-duksi, mengolah, …

Saya pikir masihkah ada orang “bodoh”? Kalau pun ada, saya rasa dia tidak/belum sempat mengembangkan potensi yang ia miliki saja karena ia tidak mempunyai kesempatan, tidak tahu memiliki potensi besar yang masih tersembunyi, tertidur didalam dirinya. Ia tidak sadar bahwa ia sebenarnya jauh lebih hebat dari dirinya sebagaimana dirinya sekarang ini.

Potensinya mungkin tidak sempat dikem-bangkan, selain dibatasi umur atau karena belum terbuka/ada kesempatannya, atau karena lahir tidak pada zamannya. Mozart tak mungkin dapat mengembangkan bakat musiknya kalau lahir di zaman belum ada musik yang seperti zaman sekarang ini. Einstein tidak mungkin bisa menjadi ilmuwan kalau manusia belum memiliki ilmu pengetahuan. Mereka akan dianggap orang-orang biasa saja. Rudy Hartono tidak mungkin bisa menjadi juara bulutangkis jika orang tidak mengenal permainan bulutangkis. Kalau tidak ada sepeda, mobil, bagaimana orang bisa tahu kalau orang bisa menguasai, mengendarai sepeda, mobil?

Mengingat ini, betapa banyak yang masih saya ingin kuasai, nikmati. Bahasa Sunda untuk dapat menikmati Wayang Golek, bahasa Cina untuk bisa membaca “Impian Di Ruang Merah”, belajar astronomi untuk tahu perjalanan menakjubkan, sejarah bintang-bintang. Belajar harmoni agar sanggup menciptakan musik, main piano, menyanyi dengan baik, main ski, mendaki gunung, mengetahui aneka jenis tanaman tanpa nama, mengetahui perihal binatang, ikan, burung, serangga … Tetapi dengan hidup seribu tahun pun tak akan saya sanggup menyelesaikannya dan menjadi seorang ahli dalam bidang seni, ilmu, bahasa, bidang apapun.

Bak mendaki gunung, meski sangat mele- tihkan, sangat berat, kadang-kadang sangat berbahaya, saya rela melakukannya mengingat setiap kali meningkat, setiap kali peman-dangan, firdaus baru yang menakjubkan terbuka, tampak, dan kalaupun menyangka saya sampai puncaknya, puncak baru sudah menghadang lagi. 

Syukurlah, mungkin manusia tak akan pernah bisa mencapai puncaknya.

Ibarat hanya memiliki beberapa pilihan dari ribuan pilihan masakan yang paling istimewa yang tersedia dihadapan kita. 

“Jangan serakah, jangan rakus kalau mau menikmatinya.” Begitu saya menasehati diri sendiri.

Nopember 2007

No comments:

Post a Comment