Friday, August 21, 2015

Banyak Jalan Menuju Depok


Berkat penyakit asthma dan sesak nafas, justru membuat opa Johan sebagaimana dia kemudian itu. Untuk mengatasinya ia mengikuti resep K.H. Cooper: sanggup berlari 2,4 km dalam 12 menit. Betapa beratnya itu bagi seorang yang sudah berumur hampir 60 tahun dan dengan kondisi fisik yang kurang baik. Bagi yang muda saja, syarat itu tidaklah mudah. Sepertinya tidak mungkin. Namun dengan latihan tekun ia berhasil melakukannya. Kondisinya jauh meningkat, nafasnya “plong”.

Ia mula-mula ikut lomba 10 km, kemudian ia disarankan ikut lomba Marathon. Hitung-hitung bagaimana mungkin? Berapa jam sehari mesti ia latihan dan berapa jauh kalau mengingat jarak Marathon adalah 42 km lebih? Lagi-lagi sepertinya mustahil. Toh akhirnya ia berhasil melakukannya, ikut lomba Marathon dan tak disangka-sangka mendapat hadiah uang, kaos, sepatu dan tas sebagai salah satu pemenang kelompok umur.

Untuk tidak menjemukan ia tidak berlatih berputar-putar, bolak balik di satu tempat saja melainkan membuat latihannya menyenangkan dengan berlari keluar Jakarta, menikmati udara pagi, menikmati keindahan pemandangan alam melalui jalan desa, jalan tanah, sawah, sungai, danau, pantai, pegunungan. Akhirnya menjadi kesenangannya sampai sekarang di usia menjelang 80 tahun.

Berangkat seorang diri dari rumah di pagi buta tanpa membawa bekal kecuali untuk beli minuman dan sarapan diperjalanan. Pulangnya ia naik bis.

- via Ciputat ke Cilenggang
- via Pantai Kapuk melalui Muara Angke, menyusuri pantai ke Kamal
- via Pesing melalui jalan tembus ke Pal Merah
- mendaki bukit-bukit semen Cibinong
- via Pamulang melalui jalan desa ke Parung
- ke Depok melalui Ragunan, Jl. Tanah Baru
Ia mengingat perjalanannya ke Tanjung Kait, Mauk, Tanjung Pasir, Kampung Melayu (Tangerang), Salembaran, Cibubur, Wanaherang, Cileungsi, Jonggol, Cariu, Cikalong, Bekasi, Cipeuteuy, gunung kapur Ciampea, gunung Menara, Rumpin, Lembaga Tenaga Atom Serpong, Ciseeng, Kuripan, Cinangka, Sawangan, Lapangan Terbang Sukarno-Hatta Cengkareng, Halim, Jurangmangu, Pasar Minggu, UI Depok, Citayam, Bojong Gede, Cilebut, Danau Kemuning, Danau Tonjong, Situ Gintung, Situ Pamulang, Situ Cipondoh, Kali Pasanggrahan Kali Angke, Cisadane, Ciliwung kearah hulu maupun kearah muara.

Setelah 20 tahun masih tetap ia dalam kondisi lebih baik dari semula, Ia sekarang membawa sepeda naik kereta api ke Bogor. Berawal dari Bogor bersepeda ke Bukit Sentul, Curug Panjang, Curug Cilember, Kebun Teh puncak, Tapos, Rancamaya, Cihideung, Curug Nangka, Gunung Geulis, Bukit Pelangi, Rumpin, Cicangkal, Gobang, desa Panunggangan, Wates, Sadeng Jambu, Leuwiliang, Cigudeg, Nanggung, Jasinga, dan pulang naik kereta api atau bis Bogor - Jakarta. Kalau mau dicari sekarang, banyak desa sudah tidak ada lagi karena sudah menjadi Real Estate atau Kota Mandiri.

Ia yakin bahwa orang selalu dapat memperbaiki dirinya meski sudah berumur lanjutpun. Dengan berlatih ia berhasil, selain membebaskan diri dari asthma, juga dari pemakaian kaca mata, meski sepertinya tak mungkin sebelumnya, nafasnya lega, daya tahannya meningkat, suaranya menjadi lebih kuat, indah dan ia mulai belajar, berlatih menyanyi, main organ tanpa guru.

Betapa senangnya, mengasyikkan menyaksikan pesona keindahan alam di tempat-tempat itu, ia mengsyukuri kemajuan-kemajuannya. 

Kalau dipikir, penyakit asthma bukanlah kutukan malah ia membawa berkat. Tanpa menderita asthma kondisi dirinya mungkin tak sebaik sekarang ini.

“Ada banyak jalan menuju Depok, Bogor, Roma, … Surga. Ha, ha, ha.” katanya.

Juli 2008
web stats analysis

No comments:

Post a Comment