Dea kehilangan si Theo, putranya. Ia ditikam orang.
Oh, peduli amat, apalah khotbah hiburan paling bagus pendeta, kalau si Theo tidak kembali. Meski ada orang yang mau menghibur dengan memberinya sebuah pulau berikut rumah bak istana dan pendapatan untuk seumur hidup. Apa artinya hiburan itu kalau si Theo tidak kembali. Jangankan sebegitu, dihadiahkan seluruh dunia, kedudukan paling tinggi akan ia tolak. Bahkan, andaikan Tuhan menawarkannya untuk kembali menjadi muda, sehat, cantik dan mempunyai anak lain lagi sebagai ganti si Theo, Dea akan berkata, “Tuhan, biarin aja saya menjadi tua, saya rela menjadi botak, ompong, jelek, kok, kalau saja itu bisa mengembalikan si Theo.”
Oh, peduli amat, apalah khotbah hiburan paling bagus pendeta, kalau si Theo tidak kembali. Meski ada orang yang mau menghibur dengan memberinya sebuah pulau berikut rumah bak istana dan pendapatan untuk seumur hidup. Apa artinya hiburan itu kalau si Theo tidak kembali. Jangankan sebegitu, dihadiahkan seluruh dunia, kedudukan paling tinggi akan ia tolak. Bahkan, andaikan Tuhan menawarkannya untuk kembali menjadi muda, sehat, cantik dan mempunyai anak lain lagi sebagai ganti si Theo, Dea akan berkata, “Tuhan, biarin aja saya menjadi tua, saya rela menjadi botak, ompong, jelek, kok, kalau saja itu bisa mengembalikan si Theo.”
“Bagaimana kalau salah satu di antara anak-anakmu akan Saya ambil sebagai gantinya si Theo. Tentukanlah yang mana.” kata Tuhan.
“Kalau
Tuhan begitu tega untuk memaksa Dea, seorang ibu untuk menentukan nasib
buruk anak-anaknya sendiri, biarlah Tuhan ambil Dea lebih dulu.”
No comments:
Post a Comment