Sunday, July 31, 2016

Hak Azasi

 Hak Azasi

Setiap orang adalah milik dirinya sendiri.

Tuhan

Tuhan
Seorang anak kecil berkata:: “Mau tahu, bagaimana Tuhan? Gampang. Nih saya akan melukisNya.” dan mengambil sebuah pensil.
Benar, Tuhan diciptakan, dilukis menurut peta, gambaran dirinya.

Tuhan, iblis, malaikat diciptakan menurut peta, gambaran kita masing-masing. Karena kita tidak pernah melihat mereka, kecuali dalam lukisan atau dalam tulisan di Kitab Suci.
I wonder how God created matter, space, time, life and especially Himself out of nothing. Yet, I created God after my own image, imagination. (Ralat untuk Leisurely Reading)  
Mei 2008

Tuhan Laki Atau Perempuan

    Tuhan Laki Atau Perempuan?
Kalau Tuhan seperti bapak, Tuhan jauh lebih dari seorang bapak yang paling baik. Kalau seperti ibu, Tuhan jauh lebih baik dari ibu yang paling baik. Kalau orang bilang Tuhan hidup, Tuhan jauh lebih dari hidup, engga pernah engga hidup sampai kapan pun. Kalau orang bilang Tuhan ada di gereja, di mesjid, di kuil, Tuhan ada di mana-mana, di dalam laut, di hutan, di rumah, di penjara, di langit, di bintang-bintang, di lubang semut pun, dihati manusia pun. Tidak ada satu tempat dimana Dia tidak ada.
Tuhan tak bisa diperkenalkan begitu saja, kalau diperkenalkan di sekolah minggu atau digereja pun kita belum tentu bisa kenal Dia meski beribu-ribu kali diceritakan.
Tiba-tiba Tuhan memperkenalkan diri, kalau kita  mendengar nyanyian begitu indah, melihat bunga, pemandangan memesona, perbuatan yang begitu agung, mulia, … sampai kita merinding.
Begitu cerita Opa Johan kepada cucu-cucunya.

Bumi Siapa Yang Punya?

     Bumi, Siapa Yang Punya?
Cuma pemiliknya mempunyai hak, wewenang untuk membagi-bagikan bumi. Sang Maha Kuasa pemiliknya.
Tapi Dia tidak pernah mengatakan: “ini bagian untuk orang Amerika, ini untuk Rusia, ini untuk Cina, ini untuk singa, ini untuk ular, ini untuk ikan, ini untuk serangga, ini untuk tumbuh-tumbuhan, …”
Karena diam, orang bodoh, serakah pikir “bumi engga ada yang punya. Jadi duduki, ambil, rebut aja.”
Padahal Tuhan memberikan bumi berikut matahari, bulan dan bintang untuk seluruh umat hidup.
Tetapi fihak yang menanglah yang  menentukan, membuat aturan, membagi ‘kuenya’.
“Ya, salahnya Tuhan dong, yang diam aja. Ha, ha.” Begitu kata orang-orang yang menang.

April 2009

Tidak Ada Yang Nomor dua

     Tidak Ada Yang Nomor Dua
Telur kupu-kupu menetas tanpa dierami. Menjadi ulat tanpa mengenal induknya. Tiada yang mengasuh, tiada yang memberi makan. Tanpa ada yang mengajar ia menjadi kepompong. Hanya dengan tidur, lalu “bangun” menjadi kupu-kupu indah, lalu terbang tanpa diajari.
Ia tidak bersarang, ia menghadapi hujan, angin, terancam macam-macam bahaya dan juga tak luput ia dari Sang Maut. Namun ia hidup bahagia meski tidak tahu bagaimana harus berdoa.
Setiap karyaNya terbaik. Tidak ada yang nomor dua.
Desember 1973

Hidup

     Hidup
Orang tak dapat makan lebih, tidur lebih, melihat lebih, mendengar lebih, membaca lebih, menikmati lebih, … melebihi apa yang ada di dalam batas kemampuannya.   
Hidup tak dapat dipercepat, diperlambat, tak dapat mengembali-kan apa yang telah lewat.

Berkat Sakit

     Berkat Sakit
Berkat sakit, orang sadar betapa besar artinya sehat.


Itu Baru Hadiah


     Itu Baru Hadiah
Apalah satu miliard Rupiah? Itu mah, hadiah untuk pengemis. Mata, tangan, gigi, kaki, otak, suara, kesehatan, kesenangan, kebahagiaan, … itu baru hadiah.

Juli 2009


Thursday, July 28, 2016

Orang Terkaya Di Dunia

                        Orang Terkaya Di Dunia
Orang terkaya di dunia adalah Adam, bukan Bill Gates. Meski ia tak punya uang, buta huruf, tetapi Hawa dan seluruh bumi adalah miliknya.

Pria Punya Selera

1.     Pria Punya Selera
"Pisangkah?"
"Bukan."
"Durenkah?"
"Bukan pula, melainkan rokok. Rokok itu pria punya  selera menurut iklan yang terpampang dimana-mana di tahun 1990-an."
Meski nikmat, mesra, eksklusif kata orang,  tetapi kalau saya  sebagai pria punya selera, malah merasa lebih nikmat, lebih mesra,lebih eklusif lebih energik, lebih diilhami jika ditemani wanita dari pada ditemani rokok.
Lagi pula, segagah, seperkasa apapun,  seorang pria tidak lebih  laki-laki  jika tidak  didampingi  perempuan, bukan karena  tidak didampingi  rokok,  atau kuat minum  bir,  berjas,
bahkan ber-Mercy.
Tiada aib yang lebih besar bagi pria, selain tidak "dilihat",  dianggap wanita, karena hanya wanitalah yang bisa
mengangkat  pria menjadi laki-laki  sejati,  bukan rokok.
Dan ia masih  akan  memilih wanita ketimbang memilih menjadi presiden.
Pria punya selera? Jelaslah wanita, Hawa, woman, vrouw.


Bisnis Indonesia, 12  April 1991