Saya bermimpi berada di Atlanta dan bertemu Hoyer Larsen, pemain bulutangkis Denmark yang masuk final. Saya mewawancarainya.
Seandai Sang Maha Kuasa menanyakan, apa yang paling diingininya supaya bisa dikabulkan?
"Siapa yang ingin kau hadapi sebagai lawan? Rasyid, Joko, Alan, Arbi, Gunalan, Yang Yang, Han Jian?" tanya Tuhan.
"Siapa yang ingin kau hadapi sebagai lawan? Rasyid, Joko, Alan, Arbi, Gunalan, Yang Yang, Han Jian?" tanya Tuhan.
"Saya memilih Rudy Hartono." jawab Larsen.
"Mengapa memilih Rudy?"
"Karena menurut saya, Rudy salah satu pemain bulutangkis paling kuat, paling besar di dunia."
"Apa kau tidak gentar?"
"Tidak."
"Aku akan membuat para suporter memihak, mendukungmu" kata Tuhan.
"Aku tidak peduli, aku tidak perlu dukungan para supporter.”
"Bagaimana jika Aku membuat wasit, penjaga garis memihakmu?"
"Keinginan macam itu tentu menurunkan harga diri, martabat saya"
"Kau mau kalau Aku membuat Rudy kalah?" tanya Tuhan.
"Aku tak pernah berdoa untuk kegagalan, kekalahan lawan. Aku tak pernah berdoa. meminta Tuhan memberi saya kemenangan, meski saya akan amat bangga kalau dapat mengalahkannya, pemain yang paling saya kagumi."
"Nah, keinginan apa yang sebenarnya kau minta Aku kabulkan?"
"Saya, Larsen tak minta dibantu, didukung para suporter, saya tak ingin dibela wasit, ya, juga tidak ingin di... Kalau boleh dikabulkan dan kalau Kau tidak merasa saya ini terlalu sombong, permohonan sayalah, agar Kau tak ikut membantu atau mengatur kemenangan dan kekalahan dwi-tarung ini.
Saya, Larsen dan Hartono, sama-sama ingin merasa bangga, bahagia, tidak malu, kalau menang, sebab tidak dibantu, dibela siapa pun. Tidak ada orang yang bisa mengatakan bahwa kami memperolehnya berkat wasit, berkat Tuhan memihak dan memberi kemenangan itu dan kalaupun kalah, kalah terhormat."
Wow, ketika terjaga saya berpikir betapa luhurnya jika ada seorang olahragawan yang bersikap seperti Hoyer Larsen dalam mimpi ini.
Suara Karya, 11 Juli l996
No comments:
Post a Comment