Tuesday, August 25, 2015

Jumpa Hoyer Larsen di Atlanta


Saya bermimpi berada  di Atlanta dan bertemu Hoyer Larsen,  pemain  bulutangkis Denmark yang  masuk final.  Saya mewawancarainya.  

Seandai   Sang  Maha Kuasa menanyakan, apa yang paling diingininya  supaya bisa dikabulkan? 

"Siapa  yang ingin kau hadapi sebagai  lawan? Rasyid,  Joko, Alan, Arbi, Gunalan, Yang Yang, Han Jian?" tanya Tuhan.

"Saya memilih Rudy Hartono." jawab Larsen. 

"Mengapa memilih Rudy?" 

"Karena  menurut  saya,  Rudy  salah  satu  pemain bulutangkis paling kuat, paling besar di dunia." 

"Apa kau tidak gentar?" 

"Tidak."  

"Aku  akan membuat para suporter  memihak,  mendu­kungmu" kata Tuhan.  

"Aku tidak peduli, aku tidak perlu dukungan para supporter.”  

"Bagaimana  jika Aku membuat wasit, penjaga garis memihakmu?" 

"Keinginan macam itu tentu menurunkan  harga diri, martabat saya" 

"Kau  mau  kalau Aku membuat  Rudy kalah?"  tanya Tuhan. 

"Aku tak pernah berdoa untuk kegagalan, kekalahan lawan. Aku tak pernah berdoa. meminta Tuhan memberi saya kemenangan, meski saya akan amat bangga  kalau dapat mengalahkannya, pemain yang paling saya kagumi." 

"Nah, keinginan apa yang sebenarnya kau minta  Aku kabulkan?"  

"Saya,  Larsen  tak minta dibantu,  didukung para suporter,  saya tak ingin dibela wasit,  ya, juga tidak ingin di... Kalau boleh dikabulkan dan kalau Kau  tidak merasa saya ini terlalu  sombong, permohonan  sayalah, agar Kau tak ikut membantu  atau mengatur kemenangan dan kekalahan dwi-tarung  ini

Saya,  Larsen dan Hartono, sama-sama ingin merasa bangga,  bahagia, tidak malu, kalau menang,  sebab tidak  dibantu, dibela siapa pun. Tidak ada  orang yang  bisa  mengatakan bahwa  kami   memperolehnya berkat wasit, berkat Tuhan memihak dan memberi kemenangan itu dan kalaupun kalah, kalah terhormat."   

Wow, ketika terjaga saya berpikir betapa luhurnya jika ada seorang olahragawan yang bersikap seperti Hoyer Larsen dalam mimpi ini.                                                                                                                  
Suara Karya, 11 Juli l996

No comments:

Post a Comment