Monday, August 17, 2015

Kecemplung

Kecemplung

"Anak kucing itu masih seperti bayi, jij tahu." Begitu cerita pak Johan pada istrinya. “Dia berkeliaran di pinggir jalan mencari ibunya, tapi dia keliru mau ikutin ik. Dia terperosok masuk got melalui celah penutup got.

"Ik hampir engga pernah menyesal, jij tahu? Tapi kali ini ik nyeselin diri, kenapa dibiarkan dia begitu aja di pinggir jalan. Tak tahan kalau ik dengar tangisnya yang minta tolong.

"Bagaimana mau nolongin kalau ik punya tangan aja yang bisa masuk merogoh kedalam melalui celah?  Kalau suaranya aja yang kedengaran ada dimana-mana, tetapi dia engga kelihatan?

Tak kuat mengangkat, menggeser penutup got, ik pulang, bangunin si Boy dan kembali lagi membawa payung dan tali. Linggisnya engga jadi ik bawa. Tapi si Boy engga mucul-muncul.

“Pak, ada anak kucing kecemplung di got” ik bilang, mau minta bantuan pak pemulung. “Biarin aja.” kata dia tak peduli.

"Ik senang, mau kasih orang sepuluh ribu, kalau dia  berhasil mengeluarkan anak kucing itu. Tapi siapa? Tidak ada itu tukang  sampah yang biasa bantu kita. Ik coba pancing-pancing dengan gulungan tali, semoga dia berpegangan di tali itu, tapi sia-sia, tidak tahu mesti mancing dicelah yang mana, suaranya kan ada dimana-mana.

Ik bukan orang yang suka tahayul lo. Ik engga percaya bisa ada mukjizat, keajaiban. Ik pikir udah engga ada secuil harapan lagi dia bisa selamat.

Eh. tiba-tiba si Boy muncul dan Heru, si Rocky punya supir lewat bersamaan. Penuh semangat, dia orang ikut bantuin dan berhasil membuka penutup got yang aduhai berat itu.

"Jij masih ingat kagak, kejadian kapal selam nuklir Kursk dari Rusia yang tenggelam? Berhari-hari orang-orang yang di daratan tentu engga bisa enak tidur, enak makan, enak kerja kalau ingat kematian secara pelan-pelan yang mengancam seluruh awak kapal. Nah, ik juga rasanya begitu kalau anak kucing itu engga bisa ditolongin.

"Waktu orang berhasil bukain pintu kapal itu, ternyata mereka semuanya udah mati. Katanya kemasukan air. Waktu penutup got dibuka, ik punya kucing untung masih hidup dan selamat, biar kedinginan, kebasahan, ketakutan selama satu jam lebih.

Tentu aja ik paling bahagia di dunia.

Maret 2001

No comments:

Post a Comment