Friday, August 21, 2015

Souvenir Olimpiade Barcelona Dan Seoul

Bagaikan  penari  balet,  para gadis manis  pesenam tujuh belasan tahun,  entahlah. mungkin dari Bulga­ria,        menghadapi saat-saat  giliran "ujian" mereka  dengan cemas.  Tetapi sekali mulai "menari"  dengan mata berbinar-binar, mereka lupa akan para juri dan  para penonton. 

Namun  salah  satu  diantaranya  mengalami  musibah  karena  dua kali gagal untuk mendarat mulus di"bu­mi". Hatinya menangis, kalau mengingat ribuan kali pendaratan  yang mulus semasa persiapan sebelumnya. Bagaikan  bidadari  dengan sayap  patah  dan  wajah  tertunduk  ia pergi menyendiri untuk meratapi  "na­sibnya". 
 
Tidak  seperti yang kadang-kadang dilakukan seorang pelatih,  ia tidak diberondong dengan umpatan,  ma­kian.  Pelatih  ini ikut merasakan  kepedihan  hati anak  asuhannya.  Tahu bahwa kegagalan bisa menimpa semua atlet,  sampai yang sehebat apa pun, ia  mendatangi  dan  merangkulnya. Entah apa  yang  dibisikinya, lalu sebuah senyum manis kembali merekah menghiasi  wajahnya. Itulah kalungan emas penghar­gaan pelatihnya di Olimpiade Barcelona yang  sempat  ditayangkan TV.   

Kalau  yang  masih terkenang  di  Olimpiade Seoul, bukanlah  pidato-pidato pembuka-annya,  bukan  pula kehebatan  Kristin Otto, Flo-jo, bahkan bukan juga  keayuan  ratu tenis,  Steffi Graf maupun  Sabatini, tetapi berita kecil mengenai Mariana Ysrael, pelari putri  marathon.  Ia bukan juaranya, malah menjadi peserta yang tiba paling akhir, namun .... 

Kesepian,  gelisah,  ia sudah tertinggal amat  jauh  dibelakang.   Lelah,  panas,  haus,  tetapi panitia yang  harus menyediakan air bagi peserta  sepanjang  rute, sudah bubar dan masih harus ia  menyelesaikan    perjalanan "maut" itu yang serasa tak ada akhirnya.    

Orang  lain,  tentu sudah lama menyerah, namun  ia  tetap membandel dan berhasil mencapai finish.

Tetapi para pengunjung tidak melupakannya.  Ia  tetap ditunggu.  Dan  bukan olok-olok, cemooh,  ejekan,  hinaan menantinya, melainkan sambutan  hangat,  baginya, seorang peserta juru  kunci,  ah,  tentu serasa  bagai taburan bunga dari surga, atau  bagai kesejukan yang melebihi kesejukan minuman apa  pun, karena inilah kalungan emas penghargaan mereka atas kepahlawanannya menaklukkan "neraka" di Seoul.

Jayakarta, 19 Agustus 1992

No comments:

Post a Comment