Wednesday, August 26, 2015

Lebih Terhormat Otak Atau Badan?

Lebih Terhormat Otak Atau Badan?

Syahdan Indonesia mengadakan kurikulum dengan mata pelajaran: lari cepat, lari jauh, lari rintangan, lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit, lompat galah, mendayung, berlayar, main ski air, bermain sepatu roda, balap sepeda, senam lantai, senam papan titian, salto, angkat besi, tolak peluru, lempar lembing, cakram, panahan, berkelahi, tinju, karate, gulat, bermain pedang, berenang, loncat indah, menyelam, memanjat tebing, terjun payung, ...

Matematika, fisika, kimia, ilmu bumi, sejarah, menjadi pelajaran tidak wajib, dianggap engga penting sebab soal-soal bisa mudah dipecahkan dengan melihat di internet, dengan komputer, kalkulator, tanpa otak.

Bintang-bintang pelajar Indonesia sebelumnya, waktu dicoba, sekarang, gantian, udah belajar mati-matian, terseok-seok, banyak yang jeblok, terutama kalau menghadapi terjun payung, memanjat tebing, tinju, gulat. 

“Yah,” kata mereka “sial bener, kurikulum yang dulu udah paling bagus, paling benar, paling tepat mengolah, menghormati otak, engga ada gegituan, diubah, kita yang dulu jagoan, sekarang engga bisa tidur, menjadi begini.”

Kuli, tukang beca, nelayan, tukang sampah, menjadi bintang-bintang pelajar se Indonesia. Orang-orang ‘badung’, orang-orang ‘payah’, malah hampir tanpa belajar dan berlatih, menjadi siswa-siswa jempolan, mendapat beasiswa. 

“Ini namanya baru kurikulum pendidikan yang paling benar yang mengolah, menghormati badan. Dulu kita diketawain, sekarang kita yang ketawa, enak tidur. Biar nyaho dia orang sekarang.” kata mereka.

Apa memangnya otak yang begitu hebat, lebih terhormat dari badan?

Tiba-tiba si Upik nyeletuk: “Lebih terhormat badan dong. Kalau engga ada badan, otak mau di taroh dimana?”

“Di dengkul aja, ha, ha” kata si Buyung.

Juli 2010

No comments:

Post a Comment