Lebih Terhormat Otak Atau Badan?
Syahdan
Indonesia mengadakan kurikulum dengan mata pelajaran: lari cepat, lari
jauh, lari rintangan, lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit, lompat
galah, mendayung, berlayar, main ski air, bermain sepatu roda, balap
sepeda, senam lantai, senam papan titian, salto, angkat besi, tolak
peluru, lempar lembing, cakram, panahan, berkelahi, tinju, karate,
gulat, bermain pedang, berenang, loncat indah, menyelam, memanjat
tebing, terjun payung, ...
Matematika, fisika, kimia, ilmu bumi,
sejarah, menjadi pelajaran tidak wajib, dianggap engga penting sebab
soal-soal bisa mudah dipecahkan dengan melihat di internet, dengan
komputer, kalkulator, tanpa otak.
Bintang-bintang pelajar
Indonesia sebelumnya, waktu dicoba, sekarang, gantian, udah belajar
mati-matian, terseok-seok, banyak yang jeblok, terutama kalau menghadapi
terjun payung, memanjat tebing, tinju, gulat.
“Yah,” kata mereka “sial
bener, kurikulum yang dulu udah paling bagus, paling benar, paling tepat
mengolah, menghormati otak, engga ada gegituan, diubah, kita yang dulu
jagoan, sekarang engga bisa tidur, menjadi begini.”
Kuli, tukang
beca, nelayan, tukang sampah, menjadi bintang-bintang pelajar se
Indonesia. Orang-orang ‘badung’, orang-orang ‘payah’, malah hampir tanpa
belajar dan berlatih, menjadi siswa-siswa jempolan, mendapat beasiswa.
“Ini namanya baru
kurikulum pendidikan yang paling benar yang mengolah, menghormati badan.
Dulu kita diketawain, sekarang kita yang ketawa, enak tidur. Biar nyaho dia orang sekarang.” kata mereka.
Apa
memangnya otak yang begitu hebat, lebih terhormat dari badan?
Tiba-tiba si Upik nyeletuk: “Lebih terhormat badan dong. Kalau engga ada badan, otak mau di taroh dimana?”
“Di dengkul aja, ha, ha” kata si Buyung.
Juli 2010
No comments:
Post a Comment