Thursday, August 20, 2015

Pesan Bumi Pada Hari Bumi


Andaikan bukan lima milyar manusia menghuni  bumi, melainkan lima  milyar harimau; tidak  ada  jarak seratus meter pun di Pulau Jawa tanpa anda bertemu seekor harimau.  Apa anda  tidak  akan mengalami trauma/frustrasi dihantui begitu banyak harimau? 

Bagi umat bumi yang beruntung tidak dibudidayakan, melihat manusia ibarat melihat harimau yang  lebih harimau  daripada harimau yang sebenarnya;  karena "manusia harimau" ini tidak puas  memakan  daging saja,  melainkan  juga hasil  tumbuh-tumbuhan,  ya buah,  daun, bunga, kayu bahkan juga bahan  bakar, logam, plastik, semen, beton dan lain-lain lagi. 

Bayangkan,  untuk memenuhi kebutuhan  lima milyar "manusia harimau" itu, betapa banyak makhluk  bumi harus  dibudidayakan  (alias  dicalon-korbankan), diburu,  ditembak, dijerat, dijaring,  dipancing, dibabat,  digergaji,.... Perut bumi pun dibor  dan diledakkan.  Dan pengotorannya  tidak   tanggung-tanggung mencemari  tanah,  sungai,  laut,  udara bahkan  menyebabkan  hujan asam,  merusak lapisan ozon diudara dan meningkatkan suhu bumi. 

Jika dibiarkan, dalam tahun 2025 menurut ramalan, umat manusia akan mencapai jumlah 8,5 milyar. Naik sekitar 3,5 milyar dalam 35 tahun menuju malapeta­ka dimana bumi berikut umat insan akan meratap dan berkabung. 

Sebaliknya,  andaikan  bukan  kenaikan  melainkan penurunan   3,5  milyar jumlah penduduk  itu  bisa diwujudkan, bumi dan umat insan akan berseri. 

Begitulah pesan bumi. Sadar akan "menghamanya" umat manusia, di  Indonesia, terutama dikota-kota besar yang padat penduduk,  pasangan-pasangan subur sibuk ber-KB  untuk menurunkan jumlah populasi sampai serendah-rendahnya.  Memang  lebih baik,  daripada  menurunkannya melalui peperangan  atau  membiarkan  orang-orang mati konyol melalui kelaparan atau penyakit.   

"Satu  anak  saja demi masa  depan  tanpa polusi, tanpa kemacetan  lalu-lintas, tanpa pengangguran, tanpa  kemiskinan,  tanpa harus  hidup  berhimpit dalam kampung kumuh/rumah susun, tanpa transmigrasi, tanpa  penggusuran,  tanpa  cemas  kehamilan, tanpa pengguguran,..." 

Begitulah  semboyan mereka. Semoga menjadi kenyataan.                                        

Kompas, 29 April 1990.

No comments:

Post a Comment