“Apa
cukup berlatih senam pagi secara teratur untuk menjaga kesehatan saya?”
Tanya seorang anggauta pesenam pada pelatihnya di lapangan Monas.
“Jelas
tidak cukup.” Katanya. “kalaupun sudah berlatih teratur dan benar,
bahkan menggunakan peralatan yang mahal dan paling canggih pun, jika
sering begadang, orang bisa menjadi sakit. Kalau makan tidak teratur,
nilai gizinya kurang, atau terlalu banyak makan lemak, faedah latihan
menjadi sia-sia. Semuanya harus diatur dengan baik agar berlatih teratur
menjadi berfaedah. Kalau ada yang diabaikan, faedah latihan bisa
menjadi mubazir.”
“Terima
kasih, saya membatin. Alangkah bijaknya pelatih itu. Padahal ia
menyampaikan itu kepada muridnya. Saya tak mengenal mereka, eh malah
saya secara tak langsung beruntung mendapat nasehat tak ternilai,
bagaimana menjaga kesehatan diri kita.
Kalau
diingat, betapa banyak pikiran, ungkapan perasaan yang indah, berharga,
bak mutiara diabaikan begitu saja. Mungkin kita tidak menyangka kalau
sebuah mutiara bisa didapatkan dengan begitu mudah, sebab tinggal
dipungut dan secara cuma-cuma lagi, bukan dipajang di etalase dengan
harga mahal.
“Ibarat orang menjadi lebih yakin, percaya, kalau membacanya dulu dalam buku yang tebal yang sulit dipahami awam, ketimbang mendengarnya dengan mudah dan jelas dari mulut orang. Bukan begitu maksudnya?” si upik menerka.
“Ibarat orang menjadi lebih yakin, percaya, kalau membacanya dulu dalam buku yang tebal yang sulit dipahami awam, ketimbang mendengarnya dengan mudah dan jelas dari mulut orang. Bukan begitu maksudnya?” si upik menerka.
Banyak
“mutiara” berhasil saya pungut, hanya dari percakapan-percakapan
sepintas orang lain, atau dari melihat, mendengar alias “membaca” apa
yang ada, terjadi di sekeliling kita. Bukan sekedar banyak membaca
buku.
Adanya di luar bangku sekolah, di luar perguruan tinggi, seminar. Memang, saya tidak menghasilkan uang dengan kegiatan macam ini, namun nilainya jauh lebih dari sekadar nilai uang, nasi atau makanan. Hobi teramat mengasyikkan.
Cuma, itulah sulitnya, kalau punya hobi yang tidak bisa menghasilkan uang, karena disangka orang, saya penganggur, pemalas.
Adanya di luar bangku sekolah, di luar perguruan tinggi, seminar. Memang, saya tidak menghasilkan uang dengan kegiatan macam ini, namun nilainya jauh lebih dari sekadar nilai uang, nasi atau makanan. Hobi teramat mengasyikkan.
Cuma, itulah sulitnya, kalau punya hobi yang tidak bisa menghasilkan uang, karena disangka orang, saya penganggur, pemalas.
Suara Karya, 31 Oktober 1997
No comments:
Post a Comment