Wednesday, August 19, 2015

Sang Pelatih Yang Bijak



“Apa cukup berlatih senam pagi secara teratur untuk menjaga kesehatan saya?” Tanya seorang anggauta pesenam pada pelatihnya di lapangan Monas.   

“Jelas tidak cukup.” Katanya. “kalaupun sudah berlatih teratur dan benar, bahkan menggunakan peralatan yang mahal dan paling canggih pun, jika  sering begadang, orang bisa menjadi sakit. Kalau makan tidak teratur, nilai gizinya kurang, atau terlalu banyak makan lemak, faedah latihan menjadi sia-sia. Semuanya harus diatur dengan baik agar berlatih teratur menjadi berfaedah. Kalau ada yang diabaikan, faedah latihan bisa menjadi mubazir.” 

“Terima kasih, saya membatin. Alangkah bijaknya pelatih itu. Padahal ia menyampaikan itu  kepada muridnya. Saya tak mengenal mereka, eh malah saya secara tak langsung beruntung mendapat nasehat tak ternilai, bagaimana menjaga kesehatan diri kita. 

Kalau diingat, betapa banyak pikiran, ungkapan perasaan yang indah, berharga, bak mutiara diabaikan begitu saja. Mungkin kita tidak menyangka kalau sebuah mutiara bisa didapatkan dengan begitu mudah, sebab tinggal dipungut dan secara cuma-cuma lagi, bukan dipajang di etalase dengan harga mahal. 

“Ibarat orang menjadi lebih yakin, percaya, kalau membacanya dulu dalam buku yang tebal yang sulit dipahami awam, ketimbang mendengarnya dengan mudah dan jelas dari mulut orang. Bukan begitu maksudnya?” si upik menerka.  

Banyak “mutiara” berhasil saya pungut, hanya dari percakapan-percakapan sepintas orang lain, atau dari melihat, mendengar alias “membaca” apa yang  ada, terjadi di sekeliling kita. Bukan sekedar banyak membaca buku. 

Adanya di luar bangku sekolah, di luar perguruan tinggi, seminar. Memang, saya tidak menghasilkan uang dengan kegiatan macam ini, namun nilainya jauh lebih dari sekadar nilai uang, nasi atau makanan. Hobi teramat mengasyikkan. 

Cuma, itulah sulitnya, kalau punya hobi yang tidak bisa menghasilkan uang, karena disangka orang, saya penganggur, pemalas.  

Suara Karya, 31 Oktober 1997

No comments:

Post a Comment