Si
Benji, anjing saya, pernah botak dan begitu jelek, namun, tidak seperti
kita, manusia, ia tidak merasakan dirinya jelek, malu, malah saya yang
mengajaknya jalan-jalan agak malu. Dengan senang ia ikut. Tidak ada
anjing lain yang memandangnya rendah, pergi atau membuang muka jika
jumpa dengan dia.
Betapa
manisnya ia menyapa saya dengan mengeluarkan kepalanya di antara
celah-celah tembok pembatas tangga, atau meminta perhatian dengan
bersandar sambil berdiri diatas dua kaki belakangnya, kala saya duduk di
depan komputer atau organ.
Tentu ada juga banyak hal yang menjengkelkan. Tetapi
seandainya ia meninggal, serasa, saya dengan senang hati, rela mau
membersihkan kotoran, muntahnya dan segala apa saja yang saya benci dan
paling tidak suka mengerjakan untuknya, seperti menyuapkannya sendok
demi sendok kalau ia sedang susah makan, asal saja ia bisa hidup
kembali.
Juli 2000
No comments:
Post a Comment