Tuesday, August 25, 2015

Kala Hidup Serba Kurang


Wow,  betapa manisnya hidup,  ketika saya, mahasiswa yang  sudah  berke­luarga, meski dalam keadaan sempit dan sedang menganggur. 

Berbulan  madu meski bersepeda boncengan, naik truk,  sado,  bus, dan menginap di losmen, di "istana" menyeramkan, berkeliling Bali.  

Betah  menunggu  hujan meski cuma di kedai pinggir  jalan  sambil makan berdua sepiring ketoprak,  sampai habis, bersih.  

Betapa hangatnya  tidur  bersama meski ditempat tidur sempit  berklambu gantung satu orang.  

Tak beruang, keadaan terjepit, menanti beaya bayi lahir. Alangkah leganya  ketika pas menerima gaji pertama berkat mendapat peker­jaan. 

Menghitung bersama uang di tempat tidur dengan pintu dan  jendela tertutup.  Rezeki nomplok, bagai jatuh dari surga,  jerih  payah istri menjual perhiasan sebagai perantara.  

Membawa pulang sedikit uang belanja, hasil penjualan kue  bikinan  "dalam  negeri"  (buatan istri), lebih manis rasanya dari membawa gaji.  

Susu tidak diminum lagi, melainkan disendoki, dimakan, dinikmati, bagai es krim. 

Melihat si upik dengan ceria menebar, menerbangkan honornya bagai bunga-bunga yang berjatuhan di hadapan ibunya.  

Mengenang  Si  Sulung yang bangga, bahagia membeli  sepeda  motor "butut", dengan mengerahkan seluruh isi celengan, serta keragaman anggauta keluarga yang merelakan, menyediakan kekurangannya. 

Tak  merasa  miskin. Ah, mengapa bersedih, mengeluh,  menyesali, membenci hidup ketika hidup serba kurang? Ketika sama-sama membagi rezeki, kesenangan, bahagia dan sama-sama memikul, meringankan beban, derita. 

Harian Ekonomi Neraca, 17 Januari 1997

No comments:

Post a Comment