Wow,
betapa manisnya hidup, ketika saya, mahasiswa yang sudah
berkeluarga, meski dalam keadaan sempit dan sedang menganggur.
Berbulan madu meski bersepeda boncengan, naik truk, sado, bus, dan menginap di losmen, di "istana" menyeramkan, berkeliling Bali.
Betah menunggu hujan meski cuma di kedai pinggir jalan sambil makan berdua sepiring ketoprak, sampai habis, bersih.
Betapa hangatnya tidur bersama meski ditempat tidur sempit berklambu gantung satu orang.
Tak
beruang, keadaan terjepit, menanti beaya bayi lahir. Alangkah leganya
ketika pas menerima gaji pertama berkat mendapat pekerjaan.
Menghitung
bersama uang di tempat tidur dengan pintu dan jendela tertutup.
Rezeki nomplok, bagai jatuh dari surga, jerih payah istri menjual
perhiasan sebagai perantara.
Membawa
pulang sedikit uang belanja, hasil penjualan kue bikinan "dalam
negeri" (buatan istri), lebih manis rasanya dari membawa gaji.
Susu tidak diminum lagi, melainkan disendoki, dimakan, dinikmati, bagai es krim.
Melihat si upik dengan ceria menebar, menerbangkan honornya bagai bunga-bunga yang berjatuhan di hadapan ibunya.
Mengenang
Si Sulung yang bangga, bahagia membeli sepeda motor "butut", dengan
mengerahkan seluruh isi celengan, serta keragaman anggauta keluarga
yang merelakan, menyediakan kekurangannya.
Tak
merasa miskin. Ah, mengapa bersedih, mengeluh, menyesali, membenci
hidup ketika hidup serba kurang? Ketika sama-sama membagi rezeki,
kesenangan, bahagia dan sama-sama memikul, meringankan beban, derita.
Harian Ekonomi Neraca, 17 Januari 1997
No comments:
Post a Comment