Tuesday, August 18, 2015

Pilih Guru Yang Mana?

        
"Gasnya injak sampai dua." bentaknya,  karena mobil  yang mau dijalankan,  mesinnya mati, mati lagi. Apa yang  dimaksud kakaknya  dengan  "dua"?  Disekolah mengemudi mobil, itu tak diajarkan. Dengan gugup ia mencoba start lagi. Mulai jalanlah mobil itu tersen­dat-sendat  lalu "grek",  melindas roda sepeda yang sedang diparkir di gang sempit itu, karena ia dibuat  bingung  dan  Rp  50.000.- melayang  sebagai  ganti rugi.  Wajah  kakaknya makin muram  dan  sepertinya mengumpat: "Goblok, tolol." 

Memang, begitulah cara mengajar murid dari bisa menjadi enggak  bisa  dan membunuh semangat belajarnya.  Begitu komentar si Upik.
Lain lagi Dorna sebagai guru. Menyaksikan  kehebatan Arjuna yang terlibat  perta­rungan  dahsyat dengannya dalam perang Bharatayuda, Dorna malah menikmatinya. Ia bangga dan bahagia melihat ketangguhan murid   kesayangannya yang paling berbakat, karena kecemerlangan anak-didiknya, cer­min dirinya sendiri.

Hati  dua  ibu yang ingin menjadi  anggauta paduan suara  gerejani menangis. Dengan perasaan  iba  dan hati teriris-iris pemimpin paduan suara  menyatakan mereka  terpaksa tidak lulus. Wow, sulitnya menga­jarkan mereka hal yang begitu  "gampang",  seperti menyanyikan  not-not  angka  dengan  benar, bagai sulitnya  mengajarkan lumba-lumba bermain  sirkus.

Alangkah  bahagianya mereka ketika akhirnya pandai dan lulus, dan bukan diluluskan karena dikasihani. Tetapi lebih  bahagia  dan  bangga  adalah pemimpin paduan  suara itu karena justru ialah  yang  merasa diuji  dan  lulus mengajarkan anggauta yang  paling lemah menjadi pandai.  

"Jika murid tak lulus terus menerus, mungkin bukan muridnya yang tak becus, melainkan gurunya yang tak mampu membuatnya menjadi  becus.  Kalau mengajar murid cerdas, apa  kebanggaannya?  Mozart bahkan melebihi guru-gurunya di bidang musik,"katanya.           
Lalu,  tidak hebatkah guru yang seluruh kepandaian, pengetahuan,  ia wariskan dan tidak takut dilampaui muridnya,  malah bahagia jika anak-didik bisa melebihinya?  
Atau seorang guru yang tak pernah menggu­rui?
     
                     
Berita Buana 15 April 1993

No comments:

Post a Comment