Tahun 2000
Tahun 2000 seorang peneliti JVA
(Japan Volley Ball Association) memasuki bagian dokumentasi perpustakaan
JVA, mengambil sebuah type script yang kertasnya sudah kecoklatan.
“Apa
ini? Pemain-pemain Bola Voli yang relatip pendek” gumamnya. “Hm.
Penulisnya Mr. Chew dari Indonesia. Omong kosong apa yang ia tulis
disitu, pemain pendek Bola Voli dirugikan? Akan saya buktikan kebohongan
ini.”
Lalu ia mulai meneliti:
Ke Biro Statistik ia menanyakan rata-rata pria, wanita Jepang. Ia mengukur tinggi pemain-pemain dari tingkat klub hingga tingkat nasional dalam kejuaraan-kejuaraan yang diadakan. Lalu membandingkannya dengan tinggi rata-rata statistik.
Ke Biro Statistik ia menanyakan rata-rata pria, wanita Jepang. Ia mengukur tinggi pemain-pemain dari tingkat klub hingga tingkat nasional dalam kejuaraan-kejuaraan yang diadakan. Lalu membandingkannya dengan tinggi rata-rata statistik.
“Kurang ajar! Pengamatan Mr. Chew rupanya benar juga.”
Lalu
ia meneliti pemain-pemain pendek dengan lompatan vertical yang paling
tinggi membandingkannya dengan pemain-pemain tinggi yang lompatan
vertikalnya juga paling tinggi. Kenyataannya lompatan pemain-pemain
tinggi bahkan lebih tinggi dari pemain-pemain pendek. Ia menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal, menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Setelah
melakukan bermacam-macam penelitian, akhirnya ia mengadakan percobaan
“bending” dengan pemain-pemain pendek. Hasilnya lompatan vertical mereka
meningkat mencapai 120 Cm! Percobaan dengan pemain-pemain super tinggi
bahkan membawa hasil 130 Cm. Setelah mengetahui hasil penelitian dan
percobaan yang ia lakukan, ia meloncat dan berteriak kegirangan:
“Informasi
Mr. Chew benar, ia cuma tidak melakukan pembuktian ilmiah! Mengapa JVA
begitu tolol mendiamkan tulisan itu sehingga hampir 20 tahun?”
“Klasemen
Tinggi Badan yang ia sarankan itu suatu “mutiara” yang sudah ada di
depan kita tinggal dipungut. Gagasan Klasemen dalam dunia tinju,
Kelompok Umur sudah teruji kemampuannya. Orang tak perlu susah-susah
“menyelam” untuk mencari “mutiara” baru di “lautan” peraturan-peraturan
yang rumit dan dibuat-buat, yang belum tentu berhasil didapat dan bila
didapat pun, belum tentu sebaik itu.”
Di Jepang orang bersorak “Banzai” merayakan diberlakukannya peraturan Klasemen Tinggi Badan.
Di tempat tidur, peneliti Jepang itu mengkhayal:
“Mengapa orang-orang Indonesia begitu bodoh membiarkan gagasan sebaik itu menghilang begitu saja sehingga kemajuan Bola Voli mereka tetap berjalan terseok-seok saja? Apa mereka tidak menelitinya?”
“Mengapa orang-orang Indonesia begitu bodoh membiarkan gagasan sebaik itu menghilang begitu saja sehingga kemajuan Bola Voli mereka tetap berjalan terseok-seok saja? Apa mereka tidak menelitinya?”
“Arigato,
Terima Kasih Mr. Chew” bisiknya, lalu ia pulas, puas dan berterima
kasih … sebab Nipponlah menjadi pahlawannya, bukan Indonesia! Inikah
yang dikendaki kita?
Merdeka 7 Juni 1991
Kini di tahun 2015 setelah melewati tahun 2000, tetap tidak ada Bola Voli menurut Klasemen
Tinggi Badan (Pemain-pemain dipertandingkan menurut ukuran tinggi badan yang sama, seperti dalam kelompok umur, kelas berat, ringan, ... dalam tinju, gulat). Bola Voli Indonesia tetap berjalan terseok-seok.
Pikir saja. Adilkah jika pemain putra ukuran normal sekitar 170 Cm bisa bersaing dengan para raksasa (pemain dunia) yang berukuran diatas 185 Cm? Itu tak mungkin. Lalu bagaimana mereka yang bahkan berukuran lebih rendah dari 170 Cm?
No comments:
Post a Comment