Monday, August 17, 2015

Kisah Anak Kucing Sakit

Kisah Anak Kucing Sakit

Kucing yang ditemukan sakit dan dirawat oleh si upik hampir tanpa harapan hidup. Ia tak bisa makan lagi. Tidur saja.

Melihat anak kucing itu, saya tidak bisa enak bekerja, enak berlatih, enak tidur kalau mengingat bakal nasibnya.

Si upik membungkus, menyelimutinya,  menyediakan lampu penghangat,  mengangkat, memeluknya untuk menyuntiknya cairan infus, membersihkan kotoran di matanya, memberinya setetes demi tetes cairan susu dan sedikit bubuk obat antibiotik. Dan kalau diingat betapa baunya kotoran yang melekat di bulu, di selimutnya dan seluruh ruangan.

Si upik sudah menjadi dokter umum, namun, katanya, ia lebih suka merawat satwa ketimbang merawat orang yang sakit. Mungkin karena binatang tak berdaya, tanpa  perlindungan, lebih memelas karena cuma diam saja sebab tak bisa mengutarakan penderitaanya dan cenderung diabai-, disia-siakan manusia.

Hampir tak bisa dipercaya, dirawat si upik ia lambat laun pulih, mau makan sendiri dan menjadi sembuh. Seluruh keluarga diam-diam bersuka cita, namun si upik juga sedih kalau mengingat  ia harus berpisah lagi melepaskan anak kucing yang masih begitu kecil dan lemah itu. Kalau tak ada orang yang mengurusi dan menyayanginya. Maklum, ia sudah menjadi seperti anggauta keluarga di rumah kami, tetapi si upik tidak mungkin memeliharanya bersama ke tiga anjingnya. Bisa-bisa ia diterkam mati.

Kini ia beruntung mendapat tempat tinggal di rumah kakaknya. Ia masih bersembunyi-sembunyi, kecuali kalau waktu makan tiba. Maklum, masih malu-malu kucing.

Di tangan si upik, setiap kucing, anjing, kelinci, satwa sepertinya menjadi sesama makhluk Tuhan. Ia tak segan-segan membawa mereka ke tempat tidurnya.
                                                                                                              
Agustus 1998

No comments:

Post a Comment