Kisah Anak Kucing Sakit
Kucing yang ditemukan sakit dan dirawat oleh si upik hampir tanpa harapan hidup. Ia tak bisa makan lagi. Tidur saja.
Melihat anak kucing itu, saya tidak bisa enak bekerja, enak berlatih, enak tidur kalau mengingat bakal nasibnya.
Si
upik membungkus, menyelimutinya, menyediakan lampu penghangat,
mengangkat, memeluknya untuk menyuntiknya cairan infus, membersihkan kotoran di matanya, memberinya setetes demi tetes cairan susu dan
sedikit bubuk obat antibiotik. Dan kalau diingat betapa baunya kotoran
yang melekat di bulu, di selimutnya dan seluruh ruangan.
Si
upik sudah menjadi dokter umum, namun, katanya, ia lebih suka merawat
satwa ketimbang merawat orang yang sakit. Mungkin karena binatang tak
berdaya, tanpa perlindungan, lebih memelas karena cuma diam saja sebab
tak bisa mengutarakan penderitaanya dan cenderung diabai-, disia-siakan
manusia.
Hampir tak bisa dipercaya, dirawat si
upik ia lambat laun pulih, mau makan sendiri dan menjadi sembuh. Seluruh
keluarga diam-diam bersuka cita, namun si upik juga sedih kalau
mengingat ia harus berpisah lagi melepaskan anak kucing yang masih
begitu kecil dan lemah itu. Kalau tak ada orang yang mengurusi dan
menyayanginya. Maklum, ia sudah menjadi seperti anggauta keluarga di
rumah kami, tetapi si upik tidak mungkin memeliharanya bersama ke tiga
anjingnya. Bisa-bisa ia diterkam mati.
Kini ia
beruntung mendapat tempat tinggal di rumah kakaknya. Ia masih
bersembunyi-sembunyi, kecuali kalau waktu makan tiba. Maklum, masih
malu-malu kucing.
Di tangan si upik, setiap
kucing, anjing, kelinci, satwa sepertinya menjadi sesama makhluk Tuhan.
Ia tak segan-segan membawa mereka ke tempat tidurnya.
Agustus 1998
No comments:
Post a Comment