Lamunan Semangkuk Sop Ayam
Teringat nasib anak anjing kecil yang dibuang di pinggir jalan. Ia tak perlu di bawa ke rumah sakit, diberikan tempat tidur, selimut yang hangat, tak perlu disuapi, dipaksa, dirayu untuk makan. Jangankan sop ayam. Kalau saja diberikan daging otot, sisa makanan, itu tentu sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkannya dari kematian.
"Air, ..." ratap sang pengungsi, mengulurkan tangannya sebelum mati kehausan dan kelaparan dalam peperangan, entah di Ruanda atau Kamboja. Oh, hidupnya masih begitu berharga.
Sementara semangkuk sop ayam enak mengepul. Perlahan-lahan, sendok demi sendok opa (kakek) yang sudah sangat tua itu disuapi. Ia sudah tidak mau makan, tidak bisa merasa betapa enaknya sop itu dan hampir tidak bisa menelan lagi. Ia sudah tidak peduli, tidak ingin hidup lagi. Tetapi anak-cucunya tak ingin kehilangannya dan menyemangati, memaksa, “menyiksa”-nya ramai-ramai untuk makan sop ayam untuk bertahan hidup.
"Biarin, kita potong seekor ayam, khusus buat opa." Begitu kata sanak saudara sebelumnya.
"Ah," Sang Ayam memrotes tanpa kata-kata, "mengapa saya mesti dipotong? Oh, saya masih muda, masih ingin hidup, bersenang-senang, meski mesti tidur bertengger di pohon, kehujanan, tak disediakan makanan sekalipun." Jika saja ia tahu kalau ia dipotong demi manusia yang sudah tidak berkeinginan hidup lagi. Kalau pun tahu, apa faedahnya? Yang tahu, mau begitu itu kan kita.
Dan ayam itu lalu dipotong. Memrotes, berteriak minta tolong tidak akan menolong.
"Kalau
saya sudah menjadi oma-oma (nenek) seperti opa, kasih makanan saya
pada anak anjing macam itu saja, agar dia bisa bertahan hidup.
Jangan lagi potong ayam buat saya. Biar diri saya mati saja."
Begitu pesan si upik, berbisik pada saya.
Berita Buana, 19 Agustus 1997
No comments:
Post a Comment