Tuesday, August 18, 2015

Lamunan Semangkuk Sop Ayam


Lamunan Semangkuk Sop Ayam

Teringat  nasib anak anjing kecil yang dibuang di pinggir  jalan.  Ia  tak perlu di  bawa  ke rumah sakit,  diberikan tempat tidur, selimut yang han­gat,  tak  perlu disuapi,  dipaksa, dirayu  untuk makan.  Jangankan sop ayam. Kalau  saja  diberikan daging  otot, sisa makanan, itu tentu sudah  lebih dari cukup untuk menyelamatkannya dari kematian.

"Air,  ..."  ratap  sang  pengungsi, mengulurkan tangannya  sebelum  mati  kehausan  dan kelaparan  dalam  peperangan, entah di Ruanda  atau  Kamboja. Oh, hidupnya masih begitu berharga.

Sementara semangkuk sop ayam enak mengepul. Perla­han-lahan,  sendok demi sendok  opa  (kakek)  yang sudah  sangat tua itu disuapi. Ia sudah tidak mau makan,  tidak bisa merasa betapa enaknya  sop  itu dan hampir tidak bisa menelan lagi. Ia sudah tidak peduli, tidak ingin hidup lagi. Tetapi anak-cucu­nya tak  ingin  kehilangannya  dan menyemangati, memaksa, “menyiksa”-nya ramai-ramai untuk makan sop ayam untuk berta­han hidup. 

"Biarin,  kita  potong seekor  ayam,  khusus buat opa." Begitu kata sanak saudara sebelumnya. 

"Ah," Sang Ayam memrotes tanpa kata-kata, "mengapa saya mesti dipotong? Oh, saya masih muda, masih ingin  hidup, bersenang-senang, meski mesti  tidur bertengger  di pohon,  kehujanan,  tak  disediakan makanan sekalipun."  Jika saja ia tahu  kalau  ia dipotong demi manusia yang sudah tidak berkeingi­nan hidup  lagi. Kalau pun tahu,  apa faedahnya? Yang tahu, mau begitu itu kan kita. 

Dan  ayam itu lalu dipotong. Memrotes, berteriak minta tolong tidak akan menolong.

"Kalau saya sudah menjadi oma-oma (nenek) seperti opa, kasih  makanan  saya pada anak anjing  macam  itu saja,  agar dia bisa bertahan hidup.  Jangan  lagi potong ayam buat saya. Biar diri saya  mati saja."
 
Begitu pesan si upik, berbisik pada saya. 
                    
Berita Buana, 19 Agustus 1997

No comments:

Post a Comment