Sunday, October 22, 2017

Mazmur Daud Masa Kini

Mazmur Daud Masa Kini 

Ia Yang Maha Besar. FirmanNya “tertulis, tertera”  di sekeliling kita dan tak perlu diumumkan, diperkenalkan, diawasi dengan bantuan manusia. Siapa yang sanggup, pantas mewakiliNya?

KehadiranNya tidak terbatas sehingga Ia harus dikunjungi, dipuja di tempat-tempat ibadah saja.

UmatNya tak sekecil jumlah orang-orang yang beragama saja, melainkan seluruh umat insan, sepanjang masa.  

UmatNya tak menghiraukan hari Minggu, hari Besar, hari Biasa. Mereka hanya merayakan kebesaran setiap pagi, kebesaran setiap hari dan damainya setiap malam. 

Tanpa perlu pengajaran, pada saatnya, saat kebahagiaannya, setiap insan tahu bagaimana menyanyi, bagaimana bersyukur. Pada saatnya, saat kematiannya, setiap insan tahu, kepada siapa dan bagaimana berdoa.
Bunga mawar, bunganya harum, berwarna merah, warna daunnya hijau, batang-batangnya kuat dan hidup lagi. 

Kalau dipikir, itu begitu cepat dibangun hanya dari tanah, air, udara dan matahari. Padahal tanah, air, udara dan matahari tidak memiliki wangi, warna hijau, merah, bahkan hidup itu.

Daging sapi dibuat sapi - bukan manusia - hanya dengan makan rumput, minum air, ...

Jayakarta, 27 Oktober 1994

Komentar si Upik:

Alangkah sedihnya jika keistimewaan, kegunaan  bagi manusia itu menimpa makhluk hidup. Badak dibantai demi culanya, gajah demi gadingnya.

Melihat tayangan anak-anak beruang diperjual-belikan di Hongkong, sia-sia mencoba memanjat, menggigit jeruji sangkar, agar bisa bebas, di TV, dengan maksud mau mengambil salah satu organ tubuh mereka.

Doa mereka, “Bagaimana kalau yang kami mohon; hidup, keutuhan organ kami, justru itu yang diinginkan anda demi kesehatan, hidup anda.  Ah, bagaimana jika anda yang ditakdirkan menjadi beruang dan kami menjadi manusia saja?”




Tersentuh pemandangan yang begitu memelas, seorang berkata: “Tega benar orang membangun kepuasan, kesenangan atas penderitaan, korban makhluk lain.”






Sedangkan kami tak berdaya, tanpa perlindungan.
terbayang anak-anak manis, lucu yang gelisah, tak berdaya dalam kurungan. 
Kalau dipikir, pohon kina seakan-akan dilengkapi sebuah laboratorium (lab) dimana dibuat kinine, obat anti malaria tanpa pernah keliru membuat bahan lain. Begitupun setiap pohon lainnya mempunyai lab tersendiri tanpa pernah keliru entah ia membuat kafein misalnya.
di laboratorium atau dipabrik.
Bahan kekhasiatan , zat-zat istimewa, warna-warna itu dengan begitu 

Lab, teknologi manusia yang paling canggih pun, tak sanggup membuat, atau mengubahnya dari bahan-bahan mati secepat dan semudah itu.

merahdibuat parfum yang begitu harum,

Saturday, October 1, 2016

Saturday, September 3, 2016

Anwar Sadat

     Anwar Sadat



Tidak ada kebanggaan, keberanian bila seorang presiden mengunjungi Negara yang telah ia taklukkan dengan memamerkan kekuatan angkatan bersenjatanya untuk menakut-nakuti. Anwar Sadat tanpa gentar mengunjungi Israel, “gua Singa” demi perdamaian.

Thursday, September 1, 2016

Voli Klasemen Tinggi Badan

 Voli Klasemen Tinggi Badan
Pemain-pemain bertanding menurut ukuran tinggi badan  mereka agar adil, setanding.
Bila tidak, Voli dimonopoli pemain tinggi-tinggi saja.
Putra
170 Cm kebawah  tinggi net 224 Cm
175 Cm       “               “         “  230 Cm
180 Cm        “               “        “   237 Cm
185 Cm         “              “         “   243 Cm
190 Cm         “               “         “   250 Cm
Putri
160 Cm  kebawah  tinggi net   205 Cm
165 Cm           “             “        “     211 Cm
170 Cm           “              “       “     217 Cm
175 Cm            “              “       “     224 Cm

180 Cm             “              “       “     230 Cm     

V o l i

  Voli:

Tahun 2000

Tahun 2000 seorang peneliti JVA (Japan Volley Ball Association) memasuki bagian dokumentasi perpustakaan  JVA, mengambil sebuah type script yang kertasnya sudah kecoklatan.

“Apa ini? Pemain-pemain Bola Voli yang relatip pendek” gumamnya. “Hm. Penulisnya Mr. Chew dari Indonesia. Omong kosong apa yang ia tulis disitu, pemain pendek Bola Voli dirugikan? Akan saya buktikan kebohongan ini.”

Lalu ia mulai meneliti:
Ke Biro Statistik ia menanyakan rata-rata pria, wanita Jepang. Ia mengukur tinggi pemain-pemain dari tingkat klub hingga tingkat nasional dalam kejuaraan-kejuaraan yang diadakan. Lalu membandingkannya dengan tinggi rata-rata statistik.

“Kurang ajar! Pengamatan Mr. Chew rupanya benar juga.”
Lalu ia meneliti pemain-pemain pendek dengan lompatan vertical yang paling tinggi membandingkannya dengan pemain-pemain tinggi yang lompatan vertikalnya juga paling tinggi. Kenyataannya lompatan pemain-pemain tinggi bahkan lebih tinggi dari pemain-pemain pendek. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Setelah melakukan bermacam-macam penelitian, akhirnya ia mengadakan percobaan “bending” dengan pemain-pemain pendek. Hasilnya lompatan vertical mereka meningkat mencapai 120 Cm! Percobaan dengan pemain-pemain super tinggi bahkan membawa hasil 130 Cm. Setelah mengetahui hasil penelitian dan percobaan yang ia lakukan, ia meloncat dan berteriak kegirangan:

“Informasi Mr. Chew benar, ia cuma tidak melakukan pembuktian ilmiah! Mengapa JVA begitu tolol mendiamkan tulisan itu sehingga hampir 20 tahun?”

“Klasemen Tinggi Badan yang ia sarankan itu suatu “mutiara” yang sudah ada di depan kita tinggal dipungut. Gagasan Klasemen dalam dunia tinju, Kelompok Umur sudah teruji kemampuannya. Orang tak perlu susah-susah “menyelam” untuk mencari “mutiara” baru di “lautan” peraturan-peraturan yang rumit dan dibuat-buat, yang belum tentu berhasil didapat dan bila didapat pun, belum tentu sebaik itu.”

Di Jepang orang bersorak “Banzai” merayakan diberlakukannya peraturan Klasemen Tinggi Badan.

Di tempat tidur, peneliti Jepang itu mengkhayal:
“Mengapa orang-orang Indonesia begitu bodoh membiarkan gagasan sebaik itu menghilang begitu saja sehingga  kemajuan Bola Voli mereka tetap berjalan terseok-seok saja? Apa mereka tidak menelitinya?”

“Arigato, Terima Kasih Mr. Chew” bisiknya, lalu ia pulas, puas dan berterima kasih … sebab Nipponlah menjadi pahlawannya, bukan Indonesia! Inikah yang dikendaki kita?

Dimuat Merdeka 7 Juni 1991


Kini di tahun 2016 telah melewati tahun 2000,  tetap tidak ada Bola Voli menurut Klasemen Tinggi Badan. Bola Voli Indonesia tetap berjalan terseok-seok.

Rudy Dan Gunalan

Rudy Dan Gunalan
Ada malam mencekam bagi keluarga Rudy.
Ada juga  malam mencekam bagi keluarga Gunalan.
Ada doa Ayah-Ibu yang mencintai Rudy.
Ada juga doa Ayah-Ibu yang mencintai Gunalan.
Ada Rakyat yang menanti-nanti Rudy.
Ada juga Rakyat yang menanti-nanti Gunalan.
Ada saat ciut hati Rudy.
Ada juga saat ciut hati Gunalan.
Ada setetes air mata yang dijatuhkan untuk Rudy.
Ada juga setetes air mata yang dijatuhkan untuk Gunalan.

Maka hiduplah Rudy!
Namun juga, hiduplah Gunalan!
Sebab kalah, menang tak pernah mengurangi kadar kepahlawanan seorang pahlawan.

Setelah pertarungan “neraka” itu selesai, Gunalan dalam wawancara mengatakan: “ … saya kira saya mempunyai kesempatan ketika saya memenangkan set pertama dengan 15 – 8 dan unggul 7 – 1 dalam set kedua. Hartono benar-benar kepala dingin. Saya mengatakan agak bergurau sebelum pertandingan: “JANGAN SUKA MENGGERTAK SEORANG TUA.” Saya bahkan hampir berbuat sebaliknya. Namun, saya juga amat bahagia. Saya mendekatinya dan Hartono mengatakan pada saya dalam bahasa Indonesia: ‘Saya bernasib baik.’ Tetapi anda jangan membuat kesalahan. Rudy Hartono benar-benar seorang juara.

Saya berharap ia menang lagi tahun depan dan membuatnya delapan kali (juara bulu-tangkis All England, penulis) berturut-turut.” Dari Merdeka
Kebesaran jiwa kedua ksatria itu membuka mata kita akan kehebatan lawan masing-masing.


Maret 1974