Sunday, August 9, 2015

Pak Johan Kecelakaan

Ik pas kekurangan Rp. 1.000.- lagi, waktu mau bayar rekening gas, jij tahu? Jij bawain ik Rp. 25.000.-, biasanya itu udah jauh lebih dari cukup. Eh rekeningnya Rp.30.000.-. Ik buka dompet, cari-cari tambahan dengan hati dag-dig-dug, tangan gemeter, hitung lembar satu per satu, ... seribu, ... dua ribu, ...tiga ribu, tiga ribu lima ratus, merogo kantong, yah, ik cuman temuin Rp. 4.000.-.  Jadi kena pulang lagi naik sepeda, ik pikir.

‘Bu, uangnya cuman Rp. 29.000, pas kurang seribu. Saya pulang aja dulu,’ ik bilang. Dia diam aja. Lalu, tak disangka-sangka dia bilang, ‘mana uangnya?’ Ik kasih uangnya dan dia kasih rekeningnya.

Ik jadi bingung, bengong. Sayup-sayup ik sadari kebaikannya. ‘Terima kasih, bu’ ik sampe engga bisa omong apa-apa lagi. Dia cuman senyum manis, seperti malaikat yang merasa girang, bahagia bisa membantu orang bodoh dalam kesulitan. Ik kayanya dikasih hadiah tak disangka-sangka dari surga. Padahal ik pakaiannya keren dan pakai sepatu, lo.

Bayangin ada orang Indonesia, yang peringkat keburukannya - kata orang luar negeri - nomor satu di seluruh dunia, yang macam dia. Ia cuman pegawai negeri lagi. Berapa gajinya? 

Biasanya mah, orang lebih senang nyusahin orang lain supaya dapat banyak duit.

Betul, jumlahnya sih kecil, cuman seribu, tetapi gede kebaikannya.  Nah jij pikir bagaimana membalas budinya, selain tentu balikin uang itu. Pake apa? Uang? Berapa? Uang engga bisa menebus kebaikannya, jij tahu?
                 Lamunan pak Arif.
Apa lebih baik kalau semua serba teratur, terencana, sehingga tidak akan terjadi “kecelakaan” macam yang dilakukan Pak Johan?

“Kecelakaan” itu justru bisa membuat orang, seperti pak Johan malah begitu bahagia, kaya, kalau tak disangka-sangka bisa menerima kebaikan orang yang begitu besar, apa lagi kebahagiaan bagi ibu yang diam-diam menolongnya, saya membatin. Pak Johan tentu tak akan bisa melupakan kejadian itu seumur hidup.

Oktober 2000

No comments:

Post a Comment