Tuesday, August 30, 2016

Untuk Para Pahlawan Bulutangkis Kita

 Untuk Para Pahlawan Bulutangkis Kita
1.       Bahwa kalah itu wajar. Tidak pernah kalah, tak wajar.
2.       Bahwa  Wong Peng Soon, Erland Kops, Pri, Delfs, Houw, Tang, Han Jian, Prakash, Sonneville, Joe Hok, Rudy, King, Ie, Christian adalah pemain-pemain hebat, tetapi mereka bukanlah Super dan yang tak dapat dikalahkan. Jangan melemahkan pemain sendiri dengan  menyanjung-menyanjungnya.

3.       Bahwa kitapun bukan Super Power dalam dunia bulutangkis; R.R.C. pun bukan. Jangan bohongi diri sendiri.
4.       Bahwa sesempurnanya segala persiapan, betapapun kita mengoreksi segala kegagalan kita, kita hanya dapat memperbesar peluang, bukan menjamin gelar juara.

5.       Bahwa Rudy, Ie, Tjuntjun, Ade, belum terlalu tua untuk meraih kembali Juara All England atau Juara Dunia.

6.       Supaya record, orang yang paling tua yang pernah menjuarai All England dapat direbut, disamping record pemain termuda yang sudah dipegang Rudy (?).

7.        Supaya kita tidak bersikap seperti “De beste stuurlui staan aan wal.”  Artinya, “Jangan hanya pandai bicara, tetapi ’bicaralah’ dengan perbuatan yang kongkrit.”

8.       Supaya kita tidak mengucurkan air mata, jika menderita  kekalahan. Apa kita tidak dapat mengakui kehebatan lawan dan kelemahan diri sendiri?

9.       Supaya waktu  Team menderita kekalahan, mereka justru membutuhkan penyambutan kita yang hangat. Apa kita lupa, tak dapat menghormati pahlawan-pahlawan kita yang “gugur”, yang pernah kita kalungi, ciumi, disanjung-sanjung, diarak-arak?

10.   Kepada Rudy, King, Christian, Ade Ie, Tjuntjun, Vera, Ivana, Imelda dan seluruh anggauta regu berikut mereka yang hanya di TC-kan, kepada semua ex anggauta Regu Bulutangkis kita, para pelatih dan Team Manager:

Jika Prakash, Pri, Kops, Wong, Koppen, Gilks, Hiroyuki merelakan diri untuk menderita  seratus kali kegagalan untuk mencapai puncak All England/Dunia dan lagi-lagi gagal lagi, semoga anda diberi kekuatan untuk mendukung dan tidak putus asa, walaupun harus menderita sampai lebih dari seribu kali kegagalan.

Begitu saya tulis, April 1980

Catatan:

Surat Pembaca ditolak, tidak dimuat di surat kabar, tapi dikirim dan mendapat balasan dari Pembina TC bulutangkis:
… Setiap harinya puluhan surat yang masuk ke alamat pemain dan pembina bulutangkis kita. Tetapi  pendapatnya dan kecamannya memang berbeda-beda.

Untuk ini, atas nama mereka, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, bahwa dewasa ini, saya tetap berbesar hati sebab ternyata masih ada banyak penggemar yang memberikan dukungan dan bahkan dapat mengerti secara mendalam keadaan, suasana, situasi dan pengorbanan anak-anak kita. Di antaranya Bpk Chew, kami anggap positif, justru hal-hal yang demikian sangat kami butuhkan untuk menghadapi World Cup y.a.d.

Tahir Djide
Pembina TC 15/4-‘80

Rudy Adalah Rudy

Rudy Adalah Rudy

Rudy adalah Rudy, tetap Rudy

Rudy tidak lebih kecil dari Rudy,
Walau dikalahkan dan dicemoohi;

Rudy tidak lebih besar dari Rudy,
Walau juara Dunia dan dipuji.

Janganlah kau berkecil hati.
Ketika hanya Rudy Hartono dari regu Thomas Cup dikalahkan Svend Pri di kandang sendiri.



Kompas, Juni 19, 1973

Penyedap Nomor Satu



     Penyedap Nomor Satu

Sehat, senang, lapar adalah penyedap nomor satu.

Monday, August 29, 2016

Paling Berat, Sulit Ditolak

     Paling Berat, Sulit Ditolak

Paling berat, paling sulit adalah kalau sampai mesti menolak mengabulkan permintaan orang-orang yang baik pada kita, orang-orang yang paling dekat.

“Datang dong pada malam reuni.” Begitu rayu kawan dekat.

“Eh, eh, eh, … Sorry ya, saya engga bisa.” Begitu jawabannya, maksudnya ‘engga mau’.

Mendulukan Orang lain Atau Diri Sendiri?

 Mendulukan Orang lain Atau Diri Sendiri?
Orang berkata: memikirkan, mementingkan orang lain dulu membuat orang bahagia.
“Jika seorang ibu rela mengorbankan dirinya  demi anaknya, seorang ayah demi keluarga atau negaranya, … apa mereka tidak memikirkan orang lain lebih dulu?” kata si Upik.
“Tentu tidak.” Kata si Boy. “Mereka melakukan itu demi keinginan diri mereka lebih dulu. Berbuat begitu datangnya dari keinginan, dorongan diri mereka untuk menyelamatkan kesayangan mereka. Itu membuat mereka bahagia, tidak menyesal, meski mengorbankan diri mereka. Ini bukan egois.”  
“Apa kamu ingin orang menikahi Upik, demi kebaikan, kebahagiaan Upik?”
“Tentu tidak” kata si Upik “karena ia tentu tidak mencintai aku, kecuali kalau ia inginkan itu demi keinginan dirinya sendiri.”
“Nah, dengan demikian, kita tidak bisa mencintai seorang, ayah, ibu atau anak demi mereka,” kata si Buyung.
“Jangan menyanyi, berlatih demi saya, demi gereja, demi Tuhan. Itu cuma omong besar. Nyanyi, berlatihlah demi keinginan dirimu sendiri.” Begitu kata Sang Pemimpin Paduan Suara pada anggauta-anggautanya.   
“kalau disuruh mencintai sesama  sebagaimana diri sendiri dan mengasihi Tuhan diatas segala-galanya, sebagaimana ditulis di Bijbel, itu diluar kemampuanku. Ha. Ha.” Begitu kata  si Boy.
Oktober 2008

Tuesday, August 23, 2016

Si Benji

Si Benji
Si Benji begitu jelek, ia amat senang, tidak malu kalau ia diajak jalan-jalan, maklum, tidak ada satu anjingpun yang membuang muka jika berjumpa dengannya.
Kalau diberikan tidak akan ada satu orang yang mau menerimanya. Namun si Upik tidak mau menukarnya dengan anjing yang paling bagus di seluruh dunia dan tak akan menjualnya seharga berapa pun.  Dia begitu disayangi meskipun begitu jelek.
“Lalu apa harganya disayangi, dicintai kalau hanya karena ia, bulunya bagus, orang itu uangnya banyak, atau cantik?” Begitu kata dia.

Friday, August 19, 2016

ABRI Pengayom Rakyat

    ABRI Pengayom Rakyat
Kami tercekam ketakutan mengingat nasib, jiwa seluruh penghuni, tanggal 14 Mei 1998, ketika melihat asap kebakaran di sekeliling dan bayangan para perusuh yang makin mendekat. Apa lagi, betapa takut, sedihnya mereka  yang benar-benar mengalami, melihat pemerkosaan, penjarahan,  dan pembakaran toko,  tempat tinggal mereka, tanpa bisa berbuat apa-apa. Ah, adanya aparat keamanan ABRI terasa amat menyejukkan,  menenangkan. dan patut disyukuri.
Dan saya lalu teringat sukacita, kebahagiaan, kebanggaan seluruh bangsa tatkala ABRI dengan gemilang berhasil menyelamatkan para sandera di Timika, Irian Jaya. Siapa yang bisa melupakan itu?
Tetapi bagi para prajurit yang gugur dalam tugas melindungi, mengayomi rakyat dari amukan, perusakan, penjarahan, pembakaran oleh kaum perusuh hampir tidak terdengar apa-apa.  Tiada pengheningan cipta, tiada pembacaan puisi, tidak  dikecam, disesalkan masyarakat dan pers luar negeri.
Untuk para pahlawan yang gugur itu dan para korban kerusuhan yang dinodai, yang mati sia-sia tanpa kesalahan apa-apa, untuk mereka yang cenderung terlupakan ini, bendera batin saya berkibar ... setengah tiang.                                                                                                    
Dimuat Suara Karya 19 Juni 1998

Lamunan Arif

 Lamunan Arif

Ah,  Upilah ingatan yang pertama,  ketika  terjaga dan  Upilah ingatan yang terakhir, sebelum  tertidur. Upi membuatnya menjadi pujangga, hatinya bernyanyi.
.
Dimana ada Upi, disanalah firdaus, surga.
                                     
Juli 1996

Nyanyian Upi

  Nyanyian Upi

Janji, sumpah, ikrar, cincin kawin Arif, biarlah dimiliki  wanita lain.
Tetapi  Upilah yang dirindukan,  dinyanyikan, dicintai.

Bagaikan burung ia tidak dikurung, tapi bebas bersarang di hatiku.

Upilah pemiliknya.
                                  

Juli 1996

Seks Adalah Karunia Alam

.      Seks Adalah Karunia Alam

Seks adalah karunia alam, bukan aib.

Dalam  falsafah Cina, "Yin" adalah  yang  bersifat feminin, perempuan, betina, sedangkan "Yang"  adalah yang bersifat maskulin, laki, jantan.

Dimana Yin dan Yang berpadu, disitulah Surga.


Dimuat Media Indonesia 28 Maret 1990

Bagai Bunga Di Atas Cikar

    Bagai Bunga Di Atas Cikar

Meskipun ia cuma seorang wanita yang keliling menjual minuman jamu gendong, tanpa sandal, berpakaian sederhana, jalan kaki diterik matahari, pulang kampung ngompreng dengan lincah naik cikar, tanpa berhenti dulu, tanpa permisi dulu.
Ah, betapa manis, bagai bunga ia berdiri di atas cikar itu, tak kurang dari seorang ratu kecantikan yang bersenyum-senyum, melambaikan tangannya kanan, kiri naik Mercy.
Pak sais tak disangka-sangka ketiban rejeki. Itu dulu sekali.

Desember 1973

Yah Ngeliat Doang

 Yah Ngeliat Doang
Mengenang Si Unyil waktu masih kecil.
“Yah, sebentar kita mau pergi makan es krim?”
“Liat aja nanti” kata ayahnya.


“Yah, ngeliat doang.” Kata si Unyil dengan kecewa.

Wednesday, August 17, 2016

Boleh Tawar Pak?

 Boleh Tawar Pak?

“Pak, berapa duit sayuran itu?”

Kata Pak Tani: “Rp. 50, - aja.”

“Boleh tawar Pak?”

“Boleh.”.

“Bagaimana kalau Rp. 200.- aja, karena itu terlalu murah. Pak. Naikin dong.”

“Oh, jangan, itu kemahalan. Kalau begitu biarin saya naikin menjadi Rp. 75.- itu udah lebih dari cukup, pak. Engga bisa dinaikkin lagi harga mati.” kata Pak Tani.

“Bagaimana kalau Rp. 175.-?”

“Ngga bisa.”
Setelah “bertengkar”  akhirnya mereka sepakat jadi Rp. 150.-

Alangkah bahagianya Pak Tani dan bapak itu atas pertengkaran, penawaran sengit begitu, Tapi itu hanya terjadi dalam khayalan saya.

Oktober 1974

Yang Mana Lebih Berharga?


     Yang Mana Lebih Berharga?

Andaikan tidak ada apa-apa lagi dalam dunia ini selain sebutir padi dan sebuah Mercedes, yang mana lebih berharga?

Aku


     A k u

Aku, sesama semua mahluk, seluruh kehidupan.
Aku anak alam.

Asli Atau Tiruan?

30.      Asli Atau Tiruan?

Karya seni, kadarnya tetap sama;
Penilaian orang naik, turun.

Lukisan Monet terjual 1.400.000 U.S.$ menurut berita di TV. Kalau untuk menangkap pesan-, keindahannya, apa orang harus memiliki, melihat lukisan aslinya, atau melihat dan mendengar sesuatu pertunjukan, pementasan di gedung teater atau gedung konser agar dapat menikmati seni? Apa lalu kita juga harus membaca sebuah novel dengan tulisan tangan penulisnya agar dapat menikmatinya? Terjemahannya pun kita membaca tanpa rasa was-was, takut beda dengan aslinya.

Kalau saya sih, bahagia dan bersyukur dengan sebuah copynya, sebut saja itu tiruan. Memiliki sebuah copy lukisan dalam kalendar, sebuah opera dalam CD atau Video, sebuah edisi paling murah dari sebuah novel yang diterjemahkan, memiliki tiruan cantik dari keramik antik, atau replika mini dari Venus Milo,  … saya tetap saja dapat menikmati Mozart meski cuma melalui tape recorder, atau di pentaskan orang lain, bukan Mozart sendiri.

Tiruan sebenarnya tidak lain dari replika, copy, edisi, imitasi, terjemahan, transposisi, rekaman. Mengapa tidak membuat replika dari  karya-karya seni, sebagaimana orang menerbitkan buku atau rekaman CD? Bayar saja royalti untuk pengarang-, pencipta-nya. Dengan demikian seni bisa dikenal untuk siapa saja yang ingin menikmatinya ketimbang sesuatu yang menyeramkan, diluar jangkauan dompet umum. Dengan demikian orang dapat membeli dan bahkan memiliki sebuah gallery karya-karya seni pribadi tanpa memiliki kekayaan amat besar, tanpa perlu pergi membeli, melihat, mendengar aslinya di luar negeri.

Toh Tolstoy tidak menjadi lebih kecil jika terjemahan novelnya bisa dibeli dengan hanya  50 sen U.S dolar saja dan tidak mengangkat Monet menjadi lebih besar karena orang berani membayar untuk lukisannya sampai setinggi jutaan dolar itu
Perbedaan antara asli dan tiruan lama-lama dapat dibuat makin kecil dan menghilang seperti sebuah buku yang seratus persen seperti tulisan aslinya, kecuali ada salah cetak, atau karya musik yang di transposisi (dipindahkan)  ke kunci lain.

Apa yang disebut tiruan, palsu, copy, duplikat itu tidak termasuk seni pula? Dan mereka membantu kita menjembatani, mengatasi halangan, rintangan waktu, tempat, bahasa dan keterbatasan kantong kita.

Diterjemahkan dari The Jakarta Post, 4 Oktober 1986

Ada Banyak Jalan Menuju Depok

 Ada Banyak Jalan Menuju Depok

Berkat penyakit asthma dan sesak nafas, itu justru membuat Opa Johan sebagaimana ia kemudian itu. Untuk mengatasinya ia mengikuti resep K.H. Cooper: sanggup berlari 2,4 km dalam 12 menit. Betapa beratnya itu bagi seorang yang sudah berumur hampir 60 tahun dan dengan kondisi fisik yang kurang baik. Bagi yang muda saja, syarat itu tidaklah mudah. Sepertinya tidak mungkin. Namun dengan latihan tekun ia berhasil melakukannya. Kondisinya jauh meningkat, nafasnya “plong”.

Ia mula-mula ikut lomba 10 km, kemudian ia disarankan ikut lomba Marathon. Hitung-hitung bagaimana mungkin? Berapa jam sehari mesti ia latihan dan berapa jauh kalau mengingat jarak Marathon adalah 42 km lebih? Toh akhirnya ia berhasil melakukannya. Ia ikut lomba Marathon dan tak disangka-sangka mendapat hadiah uang, kaos, sepatu dan tas sebagai salah satu pemenang kelompok umur.

Ia tidak berlatih berputar-putar, bolak balik di satu tempat saja melainkan membuat latihannya menyenangkan dengan berlari keluar Jakarta, menikmati udara pagi,  menikmati keindahan pemandangan alam melalui jalan desa, jalan tanah, sawah, sungai, danau, pantai, pegunungan. Akhirnya menjadi kesenangannya sampai mendekati usia 80 tahun.

Berangkat seorang diri dari rumah di pagi buta tanpa membawa bekal kecuali untuk beli minuman dan sarapan diperjalanan. Pulangnya ia naik bis.

Ia  mengenang perjalanannya ke Tanjung Kait, Mauk, Tanjung Pasir, Kampung Melayu (Tangerang), Salembaran, Cibubur, Wanaherang, Cileungsi, Jonggol, Cariu, Cikalong, Bekasi, Ci Peuteuy, gunung kapur  Ciampea, gunung Menara, Rumpin, Lembaga Tenaga Atom Serpong, Ciseeng, Kuripan, Cinangka, Sawangan, Lapangan Terbang Sukarno-Hatta Cengkareng, Halim, Jurangmangu, Pasar Minggu, UI Depok, Citayam, Bojong Gede, Cilebut, Danau Kemuning, Danau Tonjong, Situ Gintung, Situ Pamulang, Situ Cipondoh, Kali Pasanggrahan Kali Angke, Cisadane, Ciliwung kearah hulu maupun kearah muara.
Setelah 20 tahun masih tetap ia dalam kondisi lebih baik dari semula, Ia kemudian membawa sepeda naik kereta api ke Bogor karena berlari menjadi terlalu berat.

Berawal dari Bogor bersepeda ke Bukit Sentul, Curug Panjang, Curug Cilember, Kebun Teh puncak, Tapos, Rancamaya, Cihideung, Curug Nangka, Gunung Geulis, Bukit Pelangi, Rumpin, Cicangkal, Gobang, desa Panunggangan, Wates, Sadeng Jambu, Leuwiliang, Ci Gudeg, Nanggung, Jasinga, dan pulang naik kereta api atau bis Bogor - Jakarta. Kalau mau dicari sekarang, banyak desa sudah tidak ada lagi karena sudah menjadi Real Estate atau Kota Mandiri.

Wah bangga juga dia.


“Ada banyak jalan menuju Depok, Bogor, Roma, Kesehatan, Kesenangan, Surga. Ha, ha, ha.”  Kata Opa Johan.

Produksi

Produksi

Apapun yang diproduksi, dihasilkan, dibangun akhirnya menjadi sampah, limbah, puing, reruntuhan. Jangan gembira dulu. Makin besar produksi dunia, makin besar pula sampah, …

Kecuali produksi pikiran, khayalan.

Suatu waktu manusia menjadi begitu cerdik, lalu dengan sengaja membuat, bikin sampah menjadi produksi.

Friday, August 12, 2016

Teganya Orang Merusak, Membakar

Teganya Orang Merusak, Membakar
Tak bisa masuk di akal mengapa mereka yang dalam  sua-tu  kerusuhan melakukan  pencurian  kecil-kecilan  ditangkap dan  diajukan  ke pengadilan, ketimbang  diselesaikan dengan jalan damai?
Terdakwa, Faisal dan Setiawan, yang masih usia sekolah itu  dalam membela diri mungkin membatin: "Tak tega barang-barang bagus  itu dirusakin, dibakarin, saya mah, membawa  pulang nyelametin, ngama­nin. Itu kan cuman coklat doang,   deodoran atau pengharum, pember­sih  badan. Keterlaluan,  kejam banget saya itu, kalau  tahu,  ba­rang-barang  engga  boleh, dilarang dibawa pulang,  saya  lalu  sengaja ngebakar atau ngerusak aja."
Terlintas bayangan rumah yang terbuat dari roti, kue, coklat, dan kembang gula dalam sebuah dongeng. Tentu tidak ada anak yang tega membakarnya. Lebih baik dimakan saja. Andaikan rumah, gedung yang dibakar itu lantainya dilapisi  uang logam emas, pintu, jendelanya dihiasi  uang Rp 50-ribuan,  dindingnya Rp 20-ribuan,  atapnya  Rp 10-ribuan,  tiang-tiangnya  terbuat dari gepokan  Rp  ribuan  dan jumlah seluruhnya mencapai ratusan  juta  rupiah,  senilai gedung, rumah itu, apa orang masih tega merusak atau membakarnya? Atau lebih baik membawa uangnya pulang?
Menurut berita,  belum divonis  saja, mereka  sudah “dihukum” mendekam berminggu-minggu dalam  tahanan  sementara.
Saya rasa, untuk "dosa"  sekecil  itu, tentu ada banyak orang tua asuh yang rela mau menebusnya,  bahkan mengganti dengan berlipat ganda kepada yang empunya, kalau  saja mereka bisa dibebaskan.
"Wah,  kalau vonis mereka yang baru-baru ini diputus-kan:  dihukum dua  bulan penjara, atas pencurian seharga Rp. 7.900.-"  si  upik nyeletuk, "hitung-hitung, hukuman berapa ratus, bahkan ribu tahun harus dikenakan  pada  mereka yang  mencuri,  merusak,  membakar sampai senilai ratusan juta, milyaran rupiah, bahkan  menyebabkan banyak karyawan menjadi penganggur, mencederai, memakan  korban dalam kerusuhan?
Mengapa begitu  kejam kalau ratusan bahkan  ribuan  mereka   yang mempunyai ‘dosa’  yang jauh lebih berat, sebagian besar luput dari hukum?”
Sementara  para pemilik diam-diam menangisi  nasib  sanak-saudara yang telah "berangkat", nasib barang-barang, motor, mobil, tempat tinggal,  toko, gedung, rumah ibadah kesayangan mereka yang  mus­nah, dibakar, dirampok. Hasil keringat mem-bangun bertahun-tahun.
Dimuat Suara Karya, 1 Pebruari 1997

Festival Gamelan Internasional


Festival Gamelan Internasional
Melihat wanita-wanita Barat dengan sarung kebaya, yang pria memakai blangkon, duduk bersila di lantai menabuh gamelan dalam pagelaran Festival Gamelan Internasional di Taman Wisata, Candi Prambanan, ditayangkan TV entah di tahun 1996, saya sepertinya terbuai berkunjung ke suatu zaman di masa depan.
“Dimana Indonesia?” tanya seorang wisatawan.
“Ini Indonesia.” jawab saya.
“Mana mungkin? Ini pencakar-pencakar langit seperti di Tokyo, itu Hollywood Inn, Thousand and One Night Amusement Center. Saya makan sukiyaki, sashimi, pizza, hotdog, buah pir, apel, anggur, minum Coca Cola, root beer, mendengar musik disko. Dimana sawah-sawah, Puncak dan hutan tropis yang begitu dibanggakan Indonesia? Ah. Jangan berolok-olok. Ini tentu bukan Indonesia, tetapi di negara lain.”
“Betul, saya tidak main-main. Indonesia asli berikut hutan-hutannya sudah punah, sudah seratus persen kebarat-baratan. Rambut pirang orang-orang cuma dicat. Kalau mau menemui Indonesia aslinya, ya, Anda harus pergi ke …” dan saya mengambil peta dan menunjuknya suatu daerah di khatulistiwa. Di situlah masih ada Indonesia dalam miniatur, di mana kebudayaan asli Indonesia dihormati, dijunjung tinggi dan dilestarikan.
Untung kita belum separah itu. Saya tersentak dari lamunan.
Wah bagaimana kalau kita suatu waktu harus berguru, belajar kebudayaan sendiri dari orang-orang asing yang ahli? Kalau Indonesia asli, hutan tropis tidak ada lagi di sini, melainkan di luar negeri?
“Kita engga punya harga diri.” Kata si Ucok.
“Kita doraka.”  Kata si Upik.
Dimuat Suara Karya, 6 Pebruari 1996

Thursday, August 11, 2016

Kaum Laki Akan Berkabung

Kaum Laki Akan Berkabung               

Seingat saya waktu itu, Jakarta termasuk tiga besar dunia sebagai kota paling berpolusi.

Pernah ada iklan raksasa layanan masyara­kat,  sebesar  satu halaman penuh dengan gambar  seorang "gadis" entah  dengan moncong atau belalai gajah, berkaki kuda di  sebuah harian sebagai peringatan.

Pikiran pertama yang terbayang begitu melihat rupa  gadis masa  depan akibat polusi itu, ialah bahwa tidak akan  ada  satu pun orang laki-laki yang mau mencumbu-rayu apa lagi menikahinya.

Iklan itu di tahun 1997. Anda mungkin belum lahir atau paling-paling berumur menjelang remaja di waktu itu untuk bisa merasa tercengang, terkejut.

Entahlah di kota Negara mana orang memarkir mobilnya secara tegak lurus guna menghemat tempat parkir karena memban-jirnya kendaraan pribadi.

Tergelitik  perasaan  saya  untuk  menantang imaginasi  para insinyur. Bagaimana kalau menciptakan mobil  yang serba   -Three atau lebih – in One, demi mengurangi pemakaian kendaraan dan polusi.

Digulung kap dan ditekuk joknya menjadi mobil pengangkut barang, diangkat  rodanya seperti roda kapal terbang, menjadi  kendaraan air, ditarik keluar badannya seperti kotak geretan, menjadi rumah yang bisa dibawa kemana mana,  baling-balingnya didongakkan keatas, menjadi baling-baling untuk  mengudara, ...

Apa  lagi  jika mobil itu bisa dijalankan, cukup  dengan  mengisi air.  Non-polusi. Selain mengangkat gengsi bangsa di mata  dunia, temuan-temuan  yang tidak tanggung-tanggung itu pasti  akan  laku keras, asal saja terjangkau kantong masyarakat kecil.  

Tetapi  jauh lebih penting dan menggembirakan dari  kreasi-kreasi itu,  adalah  diturunkannya jumlah penduduk agar jangan  sampai anak-cucu  kita  tenggelam dalam kemacetan  lalulintas,  polusi, berhimpit  dirumah  susun berko-tak-kotak, dalam  lingkungan  yang gersang,  tanpa  kebun, tanpa kicauan burung, tanpa  satwa  liar, karena  sudah punah, mirip kandang peternakan ayam dalam  baterai raksasa.

Mengapa membiarkan jumlah penduduk bumi kita meledak, membeludak menuju “neraka”, jika menurunkannya dengan      ber-KB  kita  bisa membangun "surga" dibumi?         

Wahai gadis-gadis impian masa kini; kami, kaum  laki laki  akan berkabung bila anda kelak berubah sampai menjadi gadis mimpi buruk masa depan  akibat  polusi.

Sebelum terlambat, kami  mengimbau calon-calon ibu: "Paling banyak, satu anak  saja demi masa depan generasi kita.”

Agar generasi tetap  ayu, tampan, sehat, bahagia dan ..... awet-muda.                                       

April 1997

Tuesday, August 9, 2016

Si Foxy

Si Foxy

Coba kita tidak diberitahu, kita tidak pusing-pusing mesti menyiksa diri dengan datang melayat, menyampaikan ucapan “ikut berduka cita”, memasang muka yang sedih dan duduk “termenung” berlama-lama. Kalau pun orang mempunyai niat baik, berkunjunglah dulu, waktu ia masih hidup dan segar bugar, bukan baru (disuruh) datang kalau ia sudah mati.

Lalu bagaimana bisa merasa kehilangan, kalau kita hampir tidak pernah melihatnya. Lain ketika si Foxy mati. Upik, sekeluarga benar merasa kehilangan. Setiap hari ia dekat, dipeluk dan tidur bersama upik, melebihi orang. Atau ketika Putri Diana meninggal. Banyak orang diam-diam, sendiri-sendiri berkabung. Mengapa tidak bisa begitu?

Andaikan orang yang upik sayangi meninggal, upik sengaja tidak akan memberi tahu orang-orang atau memasang iklan. Mereka toh tak mungkin bisa membayangkan, ikut merasakan kehilangan itu. Kata-kata hiburan seindah apapun toh tak dapat menghapus rasa ini. Lagi pula, upik tentu tidak akan tahan kalau melihat orang dengan kesedihan yang dibikin-bikin.

Bagi orang yang dicintai, disayangi, kita pergi tanpa perlu disuruh-suruh, tanpa perlu mengucapkan “ikut berduka cita” tanpa perlu diketahui orang-orang. Begitu komentar si upik, ketika menerima tilpon bahwa entah paman mana telah meninggal.

Si Foxy dikubur di kebun. Rasanya ia tetap dekat ada bersama kami. Si upik diam-diam membersihkan tanahnya dari batang-batang mati yang berserakan, menanami beberapa tanaman  dan meletakkan bunga diatasnya.
                                                                                                  

Mei 2000

Yah, Maaf, Doang

  Yah, Maaf, Mengutuk Doang!

“Yah, mengucapkan maaf, mengutuk doang. Hukum si  pelaku dengan melihat sendiri bagaimana rasanya kalau orang-orang yang paling dicintainya dinodai ramai-ramai di hadapan anggauta keluarganya.” Begitu kata-kata seorang ibu setelah menyaksikan, mendengarkan kisah pengaduan para korban kerusuhan pertengahan Mei 1998 di Komnas HAM yang ditayangkan TV.

Berhari-hari terngiang-ngiang kata-kata itu, kata Pak Arif dan ia pun bermimpi ada di sidang Hakim Bao yang adil dan bijaksana, dengan sang pelaku dan sang ibu yang menuntut si pelaku agar dihukum sesuai apa yang telah ia perbuat pada para korban.

Tidak seperti biasanya, Hakim Bao mengabulkan tuntutan sang ibu begitu saja dan memerintahkan istri tercinta, anak gadis, ibu, kakak perempuan dari si pelaku di bawa ke depan pengadilan.

“Siapkan para algojo yang akan melakukan apa yang telah dilakukan pelaku terhadap korban.” katanya pada para petugas.

Seperti dalam kisah putri Draupadi yang didurhakai Dursasana beramai-ramai bersama saudara-saudaranya di hadapan suami, kakak ipar, paman, bibi, para eyang dan para tamu agung, kini, satu per satu pakaian istri, putri, kakak, adik perempuan si pelaku dilepas secara paksa, di mulai dari pakaian luar.

Mereka berlutut ketakutan. “Mohon belas kasihan, tolonglah kami, Hakim Bao. Ya Tuhan, apa kesalahan kami?” Begitu mereka terisak-isak, menangisi nasib sial yang bakal menimpa diri mereka.

Melihat  keadaan sesama perempuan, sesama kaumnya tanpa salah, tak berdaya dengan begitu memelas, sang ibu, tak tega, tak tahan melihatnya dan lupa akan tuntutannya. “Stoooppp Hakim Bao! Jangan teruskan penghinaan, siksaan, penganiayaan itu! Mereka tidak berdosa! Seribu tahun penjara tidak mampu menebus, menghapus derita, air mata mereka!” Begitu seruan, jeritan ibu itu dan saya pun terjaga lega.

Untung itu cuma impian, kata Pak Arif.

                                                                                                                 
Dimuat Sinar Pagi 8 Agustus 1998