“Nih, nasinya Rp. 5.000.-.” Kata Ibu Warteg.
"Wah, sudah termasuk lauknya, murah banget" pikir orang itu.
Lalu saya mengkhayal:
“Bisa makan di sini bu?” tanya orang itu.
Lalu saya mengkhayal:
“Bisa makan di sini bu?” tanya orang itu.
“Bisa,
tuh, disitu.” Menunjuk ke pinggir jalan.
“Bawa bangku, meja, piring,
sendok, garpu, airnya sendiri. Ha. Ha. Kalau bapak sih – maksudnya saya - engga
pusing-pusing bawa bangku, meja, engga perlu bawa apa-apa, cukup bawa bekalnya saja dan duduk, makan di pinggir danao.” Begitu kata Ibu Warteg.
Bayangin di
restoran, kita engga usah sewa duduk, sewa ruangan, tempatnya keren,
dikasih AC, lampu listrik, dilayani dan bisa berlama-lama lagi, padahal
rumah, tempat, ruang orang. Engga usah masak, bawa kursi, meja, piring,
sendok, garpu, gelas, bawa air minum, cuci piring, ngebersihin meja,
bisa ke WC, cuci tangan, ...
Pantas kalau itu dipungut bayaran.
Jadi
makan di restoran meski sangat mahal, adalah sangat murah, karena sudah
termasuk layanan, kemudahan itu, apa lagi kalau di suguhi pemandangan
alam yang indah seperti di Kampung Daun (Bandung) atau Lembur Kuring di
Lebak Wangi (Parung), di Sampireun (Garut). Keindahannya engga bisa
dibeli, engga usah dibayar.
Kecuali menjadi sangat mahal kalau makanan dibawa
pulang atau dianterin kerumah.
Januari 2011
No comments:
Post a Comment