Si Bonnie sakit begitu parah.
Ia muntah, buang air darah ketika dibawa ke dokter. Keesokan harinya
ketika si Upik mengunjungi dokternya lagi, beliau bilang:
“Ia hampir tidak mempunyai harapan untuk hidup.”
Mendengar
“vonis” itu si Upik diam-diam menangis sambil melihat dokternya memberi
pengobatan terakhir yang terbaik bagi si Bonnie.
Dalam perjalanan
pulang ia sempat berhenti sebentar untuk mendampingi Bonnie menghadapi
saat-saat akhir. Ia mengendalikan mobilnya dengan satu tangan, tangan
satunya mengelus badannya atau memegang kakinya kala ia meronta-ronta,
untuk menenang-kannya. Bonnie masih hidup ketika mereka sampai di rumah.
Si Upik tidak menangis lagi. Diam-diam ia menciumnya begitu lama sebagai
perpisahan, seakan-akan ingin menciumnya untuk merebutnya kembali.
Dua
kali pernah ia menyelamatkan si Bonnie.
Saya lalu teringat Putri
Diana yang disayangi seluruh dunia. Tetapi tidak ada seorangpun yang
lebih dekat, begitu disayangi, dari si Bonnie – anjing yang dulunya
ditinggalkan orang begitu saja di pinggir jalan - oleh si Upik.
September 2009
No comments:
Post a Comment