Thursday, August 20, 2015

Cium Perpisahan



Si Bonnie sakit begitu parah. Ia muntah, buang air darah ketika dibawa ke dokter. Keesokan harinya ketika si Upik mengunjungi dokternya lagi, beliau bilang:
“Ia hampir tidak mempunyai harapan untuk hidup.”

Mendengar “vonis” itu si Upik diam-diam menangis sambil melihat dokternya memberi pengobatan terakhir yang terbaik bagi si Bonnie. 

Dalam perjalanan pulang ia sempat berhenti sebentar untuk mendampingi Bonnie menghadapi saat-saat akhir. Ia mengendalikan mobilnya dengan satu tangan, tangan satunya mengelus badannya atau memegang kakinya kala ia meronta-ronta, untuk menenang-kannya. Bonnie masih hidup ketika mereka sampai di rumah. Si Upik tidak menangis lagi. Diam-diam ia menciumnya begitu lama sebagai perpisahan, seakan-akan ingin menciumnya untuk merebutnya kembali. 

Dua kali pernah ia menyelamatkan si Bonnie.

Saya lalu teringat Putri Diana yang disayangi seluruh dunia. Tetapi tidak ada seorangpun yang lebih dekat, begitu disayangi, dari si Bonnie – anjing yang dulunya ditinggalkan orang begitu saja di pinggir jalan - oleh si Upik.

September 2009

No comments:

Post a Comment