Wednesday, September 16, 2015

Ibu Awet Muda


“Abis Olah Raga Pak?” dia menyapa.

“Ya bu, agar sehat. Ibu juga sehat karena olah raga, menyapu jalan setiap pagi. Itulah sebabnya ibu awet muda.”

“Ha. Ha.” Dia tawa bahagia ada orang mengatakan dia awet muda, padahal mungkin ia sudah punya cucu. Baru sekarang ia merasa bersyukur, bangga atas jabatannya yang menyehatkan dan membuatnya awet muda, bukan jabatan yang rendah, hina lagi.

Oktober 2013

Sunday, September 13, 2015

Akhir

Karena ada akhir,
hidup terasa begitu singkat, begitu manis, tak ternilai, begitu hangat, begitu dekat;
bagaikan lagu indah yang harus berakhir, ...


Akhir adalah setetes air mata syukur, sebuah mutiara kehidupan teramat indah.




 


 dan hari akan berakhir,
dan malam akan berakhir,
dan suka akan berakhir,
dan duka akan berakhir,
dan segala permulaan akan berakhir.
Kalau tidak ada akhir, - apalah hidup kekal? –
Hidup terasa kosong, sia-sia.

Maret 2010

Wednesday, September 9, 2015

Menemukan Surga di Tempat Tidur

Suatu hari pak Arif menceritakan mimpinya. Saya bermimpi ada di surga dan sekelompok penghuni surga menyapa saya dan berkata, apa masih ingat mereka?

“Tentu saja,” kata saya  “kamu kan si Foxy yang sudah mati. Kalau kamu si Benji dan si Chiko, anjing-anjing saya yang masih hidup.”  

“Kami ditakdirkan menjadi anjing. Kamu makan daging, tidur di atas kasur yang empuk,  kami mah, dikasih makan tulang di piring kaleng dan mesti tidur dikolong tempat tidur. Bukankah akunya kamu sama dengan akunya aku dan akunya  setiap insan yang lain?” si Chicko seakan memprotes. Dan saya tersenyum malu. 

“Kalau kamu kan burung Cerukcuk yang kelabakan karena sarangmu di pohon beringin ikut tergusur ketika batang-batangnya mesti saya potong.” Kata Pak Arif.  

“Saya pohon beringin yang dipotong batang-batangnya itu.” kata warga surga lain, “Mengapa kau tidak berani menolak dan melindungiku, ketika dituntut tetangga di sebelah yang marah, takut daun-daunku berjatuhan menyumbat saluran air hujan di atapnya?” 

Saya juga bertemu dengan istri saya yang telah lari dengan suami orang lain dan orang-orang yang telah menipu, bahkan musuh terbesar yang telah membunuh saya. Alangkah mudahnya memaafkan mereka. Saya juga bertemu semua wanita-wanita yang pernah mencintai saya dan telah saya nikahi. Begitulah dalam impi, kata pak Arif.  

Sadar bahwa kami sebenarnya hanya pelakon, pemeran dalam cerita Sang Maha Dalang, tanpa bisa(!) menyadari diri kami sebagai pemeran di bumi, saya dan mereka tersenyum-senyum penuh pengertian. Mereka menyapa saya tanpa merasa bermusuhan, cemburu, tanpa merasa mencintai, karena di surga tiada lagi perbedaan laki, perempuan, orang tua, anak, perbedaan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tiada lagi ada uang, siang dan malam, ruang dan waktu. Di mataNya, kami, semua yang hidup, sama. 

Dan saya pun terjaga. Alangkah leganya saya tidak terbunuh dan masih hidup. Saya meraba di sebelah saya. Ah, betapa bahagianya, istri saya masih ada dan tidur dengan damai di samping saya. Betapa manis, sedapnya masih berada di bumi. Dan saya bersyukur boleh menemukan surga di tempat tidur saat itu. 

Semenjak mimpi itu, saya menjadi lebih bertenggang rasa, menjadi lebih sayang, sopan, manis pada si Benji dan si Chiko, terhadap pohon-pohon, tanaman, rerumputan dan  si bibi - “dialah orang yang saya sincerely (setulus-tulusnya) paling benci,” kata istri dengan jenaka - dan tukang minyak, tukang kerupuk dan pada orang-orang yang umumnya direndahkan, tidak dipandang masyarakat. 

Betul, betapapun mudahnya hidup bagi orang yang bebas dari keinginan, seperti mereka yang ada di surga. Meski saya tergoda, diamuk segala keinginan manusiawi dengan segala suka-duka, dengan segala tawa maupun air mata. Walau saya masih tergiur, lapar akan buah-buah terlarang dan tidak bebas dari pesona, derita kehidupan. Namun, saya tidak rela menukar hidup ini, dengan hidup damai dan abadi yang hanya dapat saya impikan di sana.  

Saya bersyukur, kalau surga sering juga bisa saya temukan di dunia ini. Begitu cerita pak Arif.  
                                                                                                       Agustus, 1999

Thursday, August 27, 2015

Kekayaan Orang Miskin




Versi Bahasa Indonesia dari On Being Rich


“Orang terkaya di dunia adalah Bill Gates. Kamu tidak kepingin kaya seperti dia?” si buyung menggoda si upik. “Ia bisa membeli pulau, memiliki pesawat terbang, helikopter pribadi, sarapan pagi di New York, makan malam di Paris, kalau mau.”



“Biarin aja. Mengapa mesti iri pada Bill Gates?” kata si upik. “Apa kamu mau menukar Sonya, pacarmu dengan kekayaannya? Atau menukar sebuah matamu? Eh, seorang ibu tak  mau kehilangan putranya di perang Teluk meski diganti dengan kekayaan Bill Gates.  


Meski miskin dalam uang dan harta benda, pak Arif sebaliknya amat kaya dalam waktu luang. Setiap hari dijadikannya hari libur untuk mengerjakan, melakukan, belajar, berlatih apa yang paling disenanginya.



Bagi guru lari saya, kesehatan itulah kekayaan yang tak ternilai besarnya. Di usia menjelang 70 tahun, selera makannya tinggi, giginya masih utuh, suaranya kuat, matanya awas, badannya lentur dan rasanya ia masih kuat berlari Jakarta-Depok. Ia tentu menolak menukar kesehatannya dengan seluruh kekayaan Bill Gates. Bagi orang yang disandera, kekayaan sebesar Bill Gates pun tidak ada apa-apanya dengan nyawa dan kebebasannya.



Kalau kekayaan orang-orang  kaya diberitakan di surat kabar, dibesar-besarkan, dikagumi, kekayaan orang miskin diam-diam disyairkan, digubah para seniman bahkan sampai dinyanyikan dalam sebuah opera Porgy and Bess.


Porgy (seorang miskin):

Meski aku orang tak berpunya, aku mempunyai matahari, dan bulan, bintang, lautan. Aku mempunyai kekasih. Aku bagai hidup di surga sepanjang hari. Hatiku menyanyikan pemberianNya itu, yang paling tak ternilai di seluruh dunia dan diberikanNya secara cuma-cuma! (Terjemahan bebas dari I Got Plenty O’ Nuttin’)



Nah, macam itulah kekayaan yang dinyanyikan seorang miskin.



“Maksudnya?” tanya si buyung.



“Mentang-mentang tak perlu dibayar, tak dibisniskan, tanpa matahari, bulan, bintang, udara, langit, sungai, lautan, kekasih, kehidupan menjadi suram dan mati. Tanpa kekayaan Bill Gates kita tetap bisa hidup bahagia, blo-ooon.” jawab si upik.

                                                                 Jayakarta 21 April l998





Wednesday, August 26, 2015

Lebih Terhormat Otak Atau Badan?

Lebih Terhormat Otak Atau Badan?

Syahdan Indonesia mengadakan kurikulum dengan mata pelajaran: lari cepat, lari jauh, lari rintangan, lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit, lompat galah, mendayung, berlayar, main ski air, bermain sepatu roda, balap sepeda, senam lantai, senam papan titian, salto, angkat besi, tolak peluru, lempar lembing, cakram, panahan, berkelahi, tinju, karate, gulat, bermain pedang, berenang, loncat indah, menyelam, memanjat tebing, terjun payung, ...

Matematika, fisika, kimia, ilmu bumi, sejarah, menjadi pelajaran tidak wajib, dianggap engga penting sebab soal-soal bisa mudah dipecahkan dengan melihat di internet, dengan komputer, kalkulator, tanpa otak.

Bintang-bintang pelajar Indonesia sebelumnya, waktu dicoba, sekarang, gantian, udah belajar mati-matian, terseok-seok, banyak yang jeblok, terutama kalau menghadapi terjun payung, memanjat tebing, tinju, gulat. 

“Yah,” kata mereka “sial bener, kurikulum yang dulu udah paling bagus, paling benar, paling tepat mengolah, menghormati otak, engga ada gegituan, diubah, kita yang dulu jagoan, sekarang engga bisa tidur, menjadi begini.”

Kuli, tukang beca, nelayan, tukang sampah, menjadi bintang-bintang pelajar se Indonesia. Orang-orang ‘badung’, orang-orang ‘payah’, malah hampir tanpa belajar dan berlatih, menjadi siswa-siswa jempolan, mendapat beasiswa. 

“Ini namanya baru kurikulum pendidikan yang paling benar yang mengolah, menghormati badan. Dulu kita diketawain, sekarang kita yang ketawa, enak tidur. Biar nyaho dia orang sekarang.” kata mereka.

Apa memangnya otak yang begitu hebat, lebih terhormat dari badan?

Tiba-tiba si Upik nyeletuk: “Lebih terhormat badan dong. Kalau engga ada badan, otak mau di taroh dimana?”

“Di dengkul aja, ha, ha” kata si Buyung.

Juli 2010

Pak Arif

Entah Kapan Tuhan Membisikkan, Membuka RahasiaNya

Jelas, pasti, setiap orang, setiap ciptaanNya sangat-sangat hebat, kalau tidak Sang Pencipta payah, bodoh.

Bayangkan, bagaimana menciptakan orang kalau anda “buta”, tak pernah melihat, tahu, apa orang itu, apa mata itu, apa telinga itu, lidah itu, kaki itu, otak, tulang, gerak, suara, ingatan, hidup, mati, ... itu?

Tapi Tuhan kata: “Ah, gampang, Aku tidak melakukan apa-apa, membiarkan semuanya berjalan, berubah, menjadi seperti yang ada, yang hidup sekarang ini, melalui milyaran tahun. Ha. Ha.”

Tapi bagaimana Ia menciptakan diriNya berikut jagad raya dari tidak ada (kosong) menjadi ada (isi), ada hidup, cuma Dia yang tahu, yang bisa. Entah kapan Ia akan membisikkan, membuka rahasiaNya.

Pebruari 2014


Hak Setiap Orang Untuk Memiliki Dirinya.
Orang tua bukan pemilik anak-anaknya.
Istri bukan milik Suami, Suami bukan milik istri. 

Mereka hanya menjadi milik kalau mereka menyerahkan diri mereka:
"Ibu milikmu" kata sang ibu pada anaknya.
"Aku milikmu" kata sang istri pada suami dan sebaliknya.

Sepasang merpati tak dapat dibujuk untuk bercerai, sedangkan sepasang anjing tak dapat dipaksa untuk setia seumur hidup pada pasangannya. Entah bagaimana pasangan manusia.

Juni 2009

Keberanian Menjadi Diri Sendiri, Berlainan

Kalau semua orang merokok, minum bir, ada orang engga merokok, engga minum bir dia itu berani. 

Kalau semua orang engga merokok, engga minum bir, tapi ada orang merokok, minum bir, dia itu juga berani. 

Berani menjadi diri sendiri, berani mempunyai pendapat, melakukan sesuatu yang berlainan. 

April 2010



Desember 2009




Tiada Apapun Yang Dapat Membuat Hati Saya Taat Selain Dengan Sukarela

Agama, pernikahan, Tuhan, manusia, aturan, hukum, perintah, ancaman tak dapat membuat hati saya taat, tak dapat menghalangi, melarang kecuali dengan sukarela. 

Nopember 2009

Kepada umat hidup,

Saya sudah berangkat ke alam baka dimana tidak ada lagi sakit, cacat, derita, duka, dengki, iri, musuh, kelaparan, menjadi tua, … Salam pamit.

Sampai jumpa.

Pak Arif

Begitu dia minta saya mengirim e mail ini kalau ia meninggal.

Mei 2010

Orang Tak Bisa Memilih Ibu-bapaknya

Kata seorang: 
“Oh Tuhan mengapa saya jelek, bodoh, sakit astma, kanker, diabetes, ...? Mengapa orang tua saya melahirkan saya kalau membawakan sifat keturunan yang begitu jelek?”

Adakah orang yang dapat menginginkan dirinya dilahirkan sebagaimana keinginannya sendiri? Orang tak bisa memilih ibu-bapaknya.”

“Nah, bagaimana kalau ibu-bapaknya kucing? Anda mau, tidak mau, lahir sebagai kucing. Ha, ha.” Si Upik nyeletuk.

Desember 2011


Impian Di Usia Senja

Meski telah menjaga sebaik-baiknya, makin banyak gigi saya yang rusak, tanggal dan tak bisa ditumbuhkan kembali. Namun, saya bersyukur pada gigi-gigi itu, yang telah melakukan tugasnya lebih dari setengah abad.
 
Kalau pun gigi saya sampai habis, saya masih bisa memakai gigi buatan, bak orang memakai wig. Kehilangan gigi saja, - orang buta malah kehilangan penglihatannya -, mengapa harus resah?

Hawking saja kehilangan kemampuan untuk bicara dan lumpuh. Otaknya begitu cemerlang. Ia masih sanggup memberi kuliah, ceramah dan menulis buku-buku ilmiah.Yang masih saya miliki dan tersisa, tak terhitung nilainya dan begitu banyak ketimbang apa yang telah hilang dan rusak.

Begitu kata saya pada pak Arif.

Benar, bersyukurlah, katanya. Kita patut bersyukur untuk pemberian mata, demi mengetahui apa merah, putih, bundar, persegi, besar, kecil.

Untuk telinga, demi mengenal apa suara lembut, kuat, nada tinggi, rendah.

Untuk lidah, agar tahu bagaimana rasanya asin, manis, asam, pahit, gurih.

Untuk hidung, selain untuk bernafas, agar tahu apa harum itu, apa berbau busuk.

Untuk tangan, kaki, yang memegang, menyentuh, memeluk, bekerja, berjalan, berlari, memanjat, berenang, menari.

Untuk otak, agar bisa mengingat, mengenang, melamun, menkhayal, bernalar.

Untuk hati, agar tahu betapa indahnya mencintai, bermimpi, pedihnya merindu, tahu antara yang baik dan buruk, antara suka dan duka, mau pun bersyukur untuk kelamin, yang membedakan dan menyatukan pria dan wanita dalam pasangan.

Apa yang diberikanNya tak dapat diukur uang sebesar apa pun. Selain menyelesaikan begitu banyak ragam tugas dengan setia setiap hari, mereka menyimpan seribu satu kejutan yang menyenangkan.

Mata saya telah melihat, membaca, memandang apa yang indah dan memesona, telinga saya telah mendengar musik, suara, nyanyian amat merdu, lidah merasakan apa yang amat lezat, hidung menghirup, mencium apa yang paling harum dan segar bak di surga saja.

Oh, hati saya telah merasa bahagianya hidup kala mencintai dan dicintai seorang. Betapa manisnya hidup ketika sama-sama berlomba, bertengkar untuk boleh berkorban dan berebut untuk saling memberikan apa yang terbaik dan terindah. Meski memiliki sedikit pun, yang sedikit itu terasa begitu berlimpah.

Pak Arif terdiam.

Terbayang hidup tanpa mata. Gelap, apa yang bisa dilihat?

Sunyi, tanpa telinga, apa yang bisa didengar.
Suram, tanpa penciuman, tanpa ingatan, tanpa jenis kelamin dan tanpa-tanpa lainnya.

Dan masih ada apa yang disebut kelahiran, hidup dan mati, lanjutnya. Tak terpikir, tak terbayangkan, tak terjangkau, Seniman maha akbar macam apa yang sanggup menciptakan jagat raya berikut segala isinya dan makhluk hidup secemerlang itu? Begitu serunya.

Dan saya pun tersentak, terjaga dari lamunan, bersyukur atas “impian” indah ini.
Epilog
Membaca tulisan diatas, si upik dengan tersenyum berkata:

Kita memang patut bersyukur dilengkapi dengan mata, telinga, hidung, perasaan, lidah, namun apa yang mau dilihat kalau tidak ada siang meski mempunyai mata?

Tidak akan ada bintang, kunang-kunang yang tampak jika tidak ada malam.

Bumi bagaikan beku, mati jika tidak ada gerakan seperti awan yang berlayar, air yang mengalir, pohon-pohon yang melambai, burung-burung yang terbang, ikan-ikan yang berenang, makhluk hidup yang merangkak dan bernafas.

Bumi akan dingin, jika tidak ada hangat, panas.

Hambar, membosankan, gersang jika tidak ada warna, keharuman dan rasa, meski dikaruniai mulut, hidung dan mata.

Dan setelah menciptakan Maha Karya ini, Ia tidak lupa menciptakan suara. Suara angin yang mendesau, suara ombak yang menderu, suara burung-burung yang berkicau, bunyi gamelan yang agung, suara sinden cantik yang merdu, bak pesta pujian, nyanyian, demi memecahkan kebisuan, kesunyian bumi. Tanpa
adanya suara, memiliki telinga pun menjadi sia-sia.

Suara Karya, 14 Desember 1996
 

Berita Buana, 24 Pebruari 1997

Tuesday, August 25, 2015

Jumpa Hoyer Larsen di Atlanta


Saya bermimpi berada  di Atlanta dan bertemu Hoyer Larsen,  pemain  bulutangkis Denmark yang  masuk final.  Saya mewawancarainya.  

Seandai   Sang  Maha Kuasa menanyakan, apa yang paling diingininya  supaya bisa dikabulkan? 

"Siapa  yang ingin kau hadapi sebagai  lawan? Rasyid,  Joko, Alan, Arbi, Gunalan, Yang Yang, Han Jian?" tanya Tuhan.

"Saya memilih Rudy Hartono." jawab Larsen. 

"Mengapa memilih Rudy?" 

"Karena  menurut  saya,  Rudy  salah  satu  pemain bulutangkis paling kuat, paling besar di dunia." 

"Apa kau tidak gentar?" 

"Tidak."  

"Aku  akan membuat para suporter  memihak,  mendu­kungmu" kata Tuhan.  

"Aku tidak peduli, aku tidak perlu dukungan para supporter.”  

"Bagaimana  jika Aku membuat wasit, penjaga garis memihakmu?" 

"Keinginan macam itu tentu menurunkan  harga diri, martabat saya" 

"Kau  mau  kalau Aku membuat  Rudy kalah?"  tanya Tuhan. 

"Aku tak pernah berdoa untuk kegagalan, kekalahan lawan. Aku tak pernah berdoa. meminta Tuhan memberi saya kemenangan, meski saya akan amat bangga  kalau dapat mengalahkannya, pemain yang paling saya kagumi." 

"Nah, keinginan apa yang sebenarnya kau minta  Aku kabulkan?"  

"Saya,  Larsen  tak minta dibantu,  didukung para suporter,  saya tak ingin dibela wasit,  ya, juga tidak ingin di... Kalau boleh dikabulkan dan kalau Kau  tidak merasa saya ini terlalu  sombong, permohonan  sayalah, agar Kau tak ikut membantu  atau mengatur kemenangan dan kekalahan dwi-tarung  ini

Saya,  Larsen dan Hartono, sama-sama ingin merasa bangga,  bahagia, tidak malu, kalau menang,  sebab tidak  dibantu, dibela siapa pun. Tidak ada  orang yang  bisa  mengatakan bahwa  kami   memperolehnya berkat wasit, berkat Tuhan memihak dan memberi kemenangan itu dan kalaupun kalah, kalah terhormat."   

Wow, ketika terjaga saya berpikir betapa luhurnya jika ada seorang olahragawan yang bersikap seperti Hoyer Larsen dalam mimpi ini.                                                                                                                  
Suara Karya, 11 Juli l996

Madu Tetap Saja Manis Sayang

"Madu Tetap Saja Manis, Sayang"
Seindah,  semanisnya buah pikiran,  buah lamunan,  buah rindu, buah hati,  lebih indah, lebih  manis­lah ...  "Buah bibir, buah mangga si manalagi, buah si malakama," si upik bersenda gurau. 

Teringat sang Pangeran menggoda: 
"Madu tetap  saja manis, sayang, meski orang menyebutnya pahit. Coba tebak. Siapa lebih bahagia, engkau atau aku?" 

Tak memberi kesempatan menjawab, Sang Pangeran berbisik  pada sang Puteri,  "Aku. Karena aku lebih, eh ... lebih mencintaimu." 
Wow,  mereka tentu bukan berlomba dalam apa  yang umumnya dilombakan orang dengan bersaing, menekan, menyakitkan, menyudutkan lawannya, melainkan sebaliknya.  
Alangkah  manisnya  berlomba, bertengkar dalam membawakan kebahagiaan sebesar-besarnya bagi pasangan,teman  hidupnya. 

Nah, semanis itulah  buah  kasih sayang. 

Dalam surga kasih sayang, orang justru lebih berbahagia dalam membawakan  bahagia, berkat, rezeki, keselamatan  bagi pasangan, insan yang  disayangi­nya.  Bagi  orang yang dengki, dendam, iri,  surga  adalah  ...  

"Berhasil menjatuhkan  mencelakakan, eh ... menjebloskan orang yang dibencinya ke dalam 'neraka' Ha. Ha. Ha."  si upik menjawab.    
April 1997, Swara (Kompas) 7 Oktober 1999  

Kala Hidup Serba Kurang


Wow,  betapa manisnya hidup,  ketika saya, mahasiswa yang  sudah  berke­luarga, meski dalam keadaan sempit dan sedang menganggur. 

Berbulan  madu meski bersepeda boncengan, naik truk,  sado,  bus, dan menginap di losmen, di "istana" menyeramkan, berkeliling Bali.  

Betah  menunggu  hujan meski cuma di kedai pinggir  jalan  sambil makan berdua sepiring ketoprak,  sampai habis, bersih.  

Betapa hangatnya  tidur  bersama meski ditempat tidur sempit  berklambu gantung satu orang.  

Tak beruang, keadaan terjepit, menanti beaya bayi lahir. Alangkah leganya  ketika pas menerima gaji pertama berkat mendapat peker­jaan. 

Menghitung bersama uang di tempat tidur dengan pintu dan  jendela tertutup.  Rezeki nomplok, bagai jatuh dari surga,  jerih  payah istri menjual perhiasan sebagai perantara.  

Membawa pulang sedikit uang belanja, hasil penjualan kue  bikinan  "dalam  negeri"  (buatan istri), lebih manis rasanya dari membawa gaji.  

Susu tidak diminum lagi, melainkan disendoki, dimakan, dinikmati, bagai es krim. 

Melihat si upik dengan ceria menebar, menerbangkan honornya bagai bunga-bunga yang berjatuhan di hadapan ibunya.  

Mengenang  Si  Sulung yang bangga, bahagia membeli  sepeda  motor "butut", dengan mengerahkan seluruh isi celengan, serta keragaman anggauta keluarga yang merelakan, menyediakan kekurangannya. 

Tak  merasa  miskin. Ah, mengapa bersedih, mengeluh,  menyesali, membenci hidup ketika hidup serba kurang? Ketika sama-sama membagi rezeki, kesenangan, bahagia dan sama-sama memikul, meringankan beban, derita. 

Harian Ekonomi Neraca, 17 Januari 1997

Friday, August 21, 2015

Khayalan Sang Pelatih Bola Voli

Tahun 2000

Tahun 2000 seorang peneliti JVA (Japan Volley Ball Association) memasuki bagian dokumentasi perpustakaan JVA, mengambil sebuah type script yang kertasnya sudah kecoklatan.

“Apa ini? Pemain-pemain Bola Voli yang relatip pendek” gumamnya. “Hm. Penulisnya Mr. Chew dari Indonesia. Omong kosong apa yang ia tulis disitu, pemain pendek Bola Voli dirugikan? Akan saya buktikan kebohongan ini.”

Lalu ia mulai meneliti:
Ke Biro Statistik ia menanyakan rata-rata pria, wanita Jepang. Ia mengukur tinggi pemain-pemain dari tingkat klub hingga tingkat nasional dalam kejuaraan-kejuaraan yang diadakan. Lalu membandingkannya dengan tinggi rata-rata statistik.

“Kurang ajar! Pengamatan Mr. Chew rupanya benar juga.”

Lalu ia meneliti pemain-pemain pendek dengan lompatan vertical yang paling tinggi membandingkannya dengan pemain-pemain tinggi yang lompatan vertikalnya juga paling tinggi. Kenyataannya lompatan pemain-pemain tinggi bahkan lebih tinggi dari pemain-pemain pendek. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Setelah melakukan bermacam-macam penelitian, akhirnya ia mengadakan percobaan “bending” dengan pemain-pemain pendek. Hasilnya lompatan vertical mereka meningkat mencapai 120 Cm! Percobaan dengan pemain-pemain super tinggi bahkan membawa hasil 130 Cm. Setelah mengetahui hasil penelitian dan percobaan yang ia lakukan, ia meloncat dan berteriak kegirangan:

“Informasi Mr. Chew benar, ia cuma tidak melakukan pembuktian ilmiah! Mengapa JVA begitu tolol mendiamkan tulisan itu sehingga hampir 20 tahun?”

“Klasemen Tinggi Badan yang ia sarankan itu suatu “mutiara” yang sudah ada di depan kita tinggal dipungut. Gagasan Klasemen dalam dunia tinju, Kelompok Umur sudah teruji kemampuannya. Orang tak perlu susah-susah “menyelam” untuk mencari “mutiara” baru di “lautan” peraturan-peraturan yang rumit dan dibuat-buat, yang belum tentu berhasil didapat dan bila didapat pun, belum tentu sebaik itu.”

Di Jepang orang bersorak “Banzai” merayakan diberlakukannya peraturan Klasemen Tinggi Badan.

Di tempat tidur, peneliti Jepang itu mengkhayal:
“Mengapa orang-orang Indonesia begitu bodoh membiarkan gagasan sebaik itu menghilang begitu saja sehingga kemajuan Bola Voli mereka tetap berjalan terseok-seok saja? Apa mereka tidak menelitinya?”

“Arigato, Terima Kasih Mr. Chew” bisiknya, lalu ia pulas, puas dan berterima kasih … sebab Nipponlah menjadi pahlawannya, bukan Indonesia! Inikah yang dikendaki kita?

Merdeka 7 Juni 1991

Kini di tahun 2015 setelah melewati tahun 2000, tetap tidak ada Bola Voli menurut Klasemen Tinggi Badan (Pemain-pemain dipertandingkan menurut ukuran tinggi badan yang sama, seperti dalam kelompok umur, kelas berat, ringan, ... dalam tinju, gulat).  Bola Voli Indonesia tetap berjalan terseok-seok. 

Pikir saja. Adilkah jika pemain putra ukuran normal sekitar 170 Cm  bisa bersaing dengan para raksasa (pemain dunia) yang berukuran diatas 185 Cm? Itu tak mungkin. Lalu bagaimana mereka yang bahkan berukuran lebih rendah dari 170 Cm?

Sang Pemimpin Paduan Suara

Menyanyi indah adalah doa khusyuk.

Menyanyi indah adalah khotbah dalam bentuk syair, singkat, sarat, padat keindahan.

Menyanyi indah membuat orang terdiam, tidak bertepuk tangan.

Menyanyi indah adalah bisikan Tuhan.

Menyanyi indah adalah surga yang membuat manusia menjadi saudara, sesama.

Dari seratus kali menyanyi di kebaktian di gereja, mungkin cuma satu kali kami menyanyi indah.
 
Dari seratus kali menyanyi tanpa salah, hampir pasti ada satu kali kami menyanyi salah.

Agustus 2009


                                  *****

Sang Pemimpin Paduan Suara Pada Anggautanya*:

Bila saudara melatih suara saudara dengan tekun Tuhan memberi saudara hadiah terindah yang tak dapat dibeli setinggi harga apapun: suara yang indah, kuat, kaya, meski tidak berdoa.

Bila tidak, meski saudara berdoa seribu kali untuk suara indah, Tuhan bilang: "Hai, orang malas, Aku tak sudi memberimu suara indah."


Jangan lupa, anda-anda amat hebat. Ini bukan untuk memuji saudara-saudara. Jika tidak, mana mungkin,Tuhan yang maha, maha hebat menciptakan ciptaanNya yang tidak sangat hebat juga,


Jika Saudara mempelajari, berlatih suatu lagu dengan sungguh-sungguh Ia mungkin membisikkan saudara sesuatu dan saudara menyanyi begitu bagus, itulah seni, bisikan Tuhan, bukan lagi kehebatan, kemahiran menyanyi. Jemaat, pendengar akan terdiam, tak dapat bertepuk tangan.

Jika persiapan tidak baik, hasil menyanyi buruk, anda stres, para pendengar ikut stres.

Jadi kalau persiapan, latihan baik, konser bagus, semua orang kebagian bagus, enak, untungnya, Kita menjadi orang kaya, kalau persiapan, latihan jelek, kita kecewa, menderita, semua pendengar kebagian engga enaknya, jeleknya, ruginya.

* Anggauta paduan suaranya orang-orang berumur antara 60 - 80 tahun, tanpa pendidikan musik, tanpa diseleksi. 

Agustus 2009

                                       *****

Saya lebih suka melatih anda menyanyi solo.

Kalau anda bagus solonya, itulah kebanggaan, kehebatan, berkat anda sendiri. Kalau anda lalu menyanyi didalam koor, andalah yang melindungi, menutupi penyanyi-penyanyi lain yang lemah dan membuat paduan suara lebih indah.

Kalau anda solonya jelek, sumbang, anda sendiri yang menanggung dan malu. Kalau anda lalu menyanyi dalam paduan suara, paduan suaralah yang menanggung malu, dosa anda karena menjadi jelek, sumbang.

2013


Makanan Paling Enak di Seluruh Dunia

"Rif,  makanan  apa yang paling  enak  di  seluruh dunia?" tanya  si Upi. 

"Tahu dong, yakni makanan yang cuma dihidangkan di restoran  'Rasa  Lapar'. Sebungkus  nasi,  sambel, tahu atau  tempe, tanpa lalap pun menjadi makanan dewata. Minum air kendi. Makan  dengan  suara kecibak  air,  dibawah  pohon kenari,  di  atas batu kali  yang  besar,  dibelai angin sepoi. Tapi masih ada syarat-syarat tambahan. Makan harus dengan santai, tidak digang­gu tamu, dikejar hutang, perjanjian, tidak sakit gigi, dan ditemani ... , mau tahu siapa?" 

"......."

"Salah,  bukan ditemani Upi. Upi  bisanya nyubit, belum pernah nyium. Dicium kamu itu melebihi makanan yang paling enak di seluruh dunia. Ha, ha, ha."  kata Arif. 

“Maunya.”kata  si Upi.                                         

Juli 1996


web stats analysis

Banyak Jalan Menuju Depok


Berkat penyakit asthma dan sesak nafas, justru membuat opa Johan sebagaimana dia kemudian itu. Untuk mengatasinya ia mengikuti resep K.H. Cooper: sanggup berlari 2,4 km dalam 12 menit. Betapa beratnya itu bagi seorang yang sudah berumur hampir 60 tahun dan dengan kondisi fisik yang kurang baik. Bagi yang muda saja, syarat itu tidaklah mudah. Sepertinya tidak mungkin. Namun dengan latihan tekun ia berhasil melakukannya. Kondisinya jauh meningkat, nafasnya “plong”.

Ia mula-mula ikut lomba 10 km, kemudian ia disarankan ikut lomba Marathon. Hitung-hitung bagaimana mungkin? Berapa jam sehari mesti ia latihan dan berapa jauh kalau mengingat jarak Marathon adalah 42 km lebih? Lagi-lagi sepertinya mustahil. Toh akhirnya ia berhasil melakukannya, ikut lomba Marathon dan tak disangka-sangka mendapat hadiah uang, kaos, sepatu dan tas sebagai salah satu pemenang kelompok umur.

Untuk tidak menjemukan ia tidak berlatih berputar-putar, bolak balik di satu tempat saja melainkan membuat latihannya menyenangkan dengan berlari keluar Jakarta, menikmati udara pagi, menikmati keindahan pemandangan alam melalui jalan desa, jalan tanah, sawah, sungai, danau, pantai, pegunungan. Akhirnya menjadi kesenangannya sampai sekarang di usia menjelang 80 tahun.

Berangkat seorang diri dari rumah di pagi buta tanpa membawa bekal kecuali untuk beli minuman dan sarapan diperjalanan. Pulangnya ia naik bis.

- via Ciputat ke Cilenggang
- via Pantai Kapuk melalui Muara Angke, menyusuri pantai ke Kamal
- via Pesing melalui jalan tembus ke Pal Merah
- mendaki bukit-bukit semen Cibinong
- via Pamulang melalui jalan desa ke Parung
- ke Depok melalui Ragunan, Jl. Tanah Baru
Ia mengingat perjalanannya ke Tanjung Kait, Mauk, Tanjung Pasir, Kampung Melayu (Tangerang), Salembaran, Cibubur, Wanaherang, Cileungsi, Jonggol, Cariu, Cikalong, Bekasi, Cipeuteuy, gunung kapur Ciampea, gunung Menara, Rumpin, Lembaga Tenaga Atom Serpong, Ciseeng, Kuripan, Cinangka, Sawangan, Lapangan Terbang Sukarno-Hatta Cengkareng, Halim, Jurangmangu, Pasar Minggu, UI Depok, Citayam, Bojong Gede, Cilebut, Danau Kemuning, Danau Tonjong, Situ Gintung, Situ Pamulang, Situ Cipondoh, Kali Pasanggrahan Kali Angke, Cisadane, Ciliwung kearah hulu maupun kearah muara.

Setelah 20 tahun masih tetap ia dalam kondisi lebih baik dari semula, Ia sekarang membawa sepeda naik kereta api ke Bogor. Berawal dari Bogor bersepeda ke Bukit Sentul, Curug Panjang, Curug Cilember, Kebun Teh puncak, Tapos, Rancamaya, Cihideung, Curug Nangka, Gunung Geulis, Bukit Pelangi, Rumpin, Cicangkal, Gobang, desa Panunggangan, Wates, Sadeng Jambu, Leuwiliang, Cigudeg, Nanggung, Jasinga, dan pulang naik kereta api atau bis Bogor - Jakarta. Kalau mau dicari sekarang, banyak desa sudah tidak ada lagi karena sudah menjadi Real Estate atau Kota Mandiri.

Ia yakin bahwa orang selalu dapat memperbaiki dirinya meski sudah berumur lanjutpun. Dengan berlatih ia berhasil, selain membebaskan diri dari asthma, juga dari pemakaian kaca mata, meski sepertinya tak mungkin sebelumnya, nafasnya lega, daya tahannya meningkat, suaranya menjadi lebih kuat, indah dan ia mulai belajar, berlatih menyanyi, main organ tanpa guru.

Betapa senangnya, mengasyikkan menyaksikan pesona keindahan alam di tempat-tempat itu, ia mengsyukuri kemajuan-kemajuannya. 

Kalau dipikir, penyakit asthma bukanlah kutukan malah ia membawa berkat. Tanpa menderita asthma kondisi dirinya mungkin tak sebaik sekarang ini.

“Ada banyak jalan menuju Depok, Bogor, Roma, … Surga. Ha, ha, ha.” katanya.

Juli 2008
web stats analysis

Souvenir Olimpiade Barcelona Dan Seoul

Bagaikan  penari  balet,  para gadis manis  pesenam tujuh belasan tahun,  entahlah. mungkin dari Bulga­ria,        menghadapi saat-saat  giliran "ujian" mereka  dengan cemas.  Tetapi sekali mulai "menari"  dengan mata berbinar-binar, mereka lupa akan para juri dan  para penonton. 

Namun  salah  satu  diantaranya  mengalami  musibah  karena  dua kali gagal untuk mendarat mulus di"bu­mi". Hatinya menangis, kalau mengingat ribuan kali pendaratan  yang mulus semasa persiapan sebelumnya. Bagaikan  bidadari  dengan sayap  patah  dan  wajah  tertunduk  ia pergi menyendiri untuk meratapi  "na­sibnya". 
 
Tidak  seperti yang kadang-kadang dilakukan seorang pelatih,  ia tidak diberondong dengan umpatan,  ma­kian.  Pelatih  ini ikut merasakan  kepedihan  hati anak  asuhannya.  Tahu bahwa kegagalan bisa menimpa semua atlet,  sampai yang sehebat apa pun, ia  mendatangi  dan  merangkulnya. Entah apa  yang  dibisikinya, lalu sebuah senyum manis kembali merekah menghiasi  wajahnya. Itulah kalungan emas penghar­gaan pelatihnya di Olimpiade Barcelona yang  sempat  ditayangkan TV.   

Kalau  yang  masih terkenang  di  Olimpiade Seoul, bukanlah  pidato-pidato pembuka-annya,  bukan  pula kehebatan  Kristin Otto, Flo-jo, bahkan bukan juga  keayuan  ratu tenis,  Steffi Graf maupun  Sabatini, tetapi berita kecil mengenai Mariana Ysrael, pelari putri  marathon.  Ia bukan juaranya, malah menjadi peserta yang tiba paling akhir, namun .... 

Kesepian,  gelisah,  ia sudah tertinggal amat  jauh  dibelakang.   Lelah,  panas,  haus,  tetapi panitia yang  harus menyediakan air bagi peserta  sepanjang  rute, sudah bubar dan masih harus ia  menyelesaikan    perjalanan "maut" itu yang serasa tak ada akhirnya.    

Orang  lain,  tentu sudah lama menyerah, namun  ia  tetap membandel dan berhasil mencapai finish.

Tetapi para pengunjung tidak melupakannya.  Ia  tetap ditunggu.  Dan  bukan olok-olok, cemooh,  ejekan,  hinaan menantinya, melainkan sambutan  hangat,  baginya, seorang peserta juru  kunci,  ah,  tentu serasa  bagai taburan bunga dari surga, atau  bagai kesejukan yang melebihi kesejukan minuman apa  pun, karena inilah kalungan emas penghargaan mereka atas kepahlawanannya menaklukkan "neraka" di Seoul.

Jayakarta, 19 Agustus 1992