Entah Kapan Tuhan Membisikkan, Membuka RahasiaNya
Jelas, pasti, setiap orang, setiap ciptaanNya sangat-sangat hebat, kalau tidak Sang Pencipta payah, bodoh.
Bayangkan, bagaimana menciptakan orang
kalau anda “buta”, tak pernah melihat, tahu, apa orang itu, apa mata
itu, apa telinga itu, lidah itu, kaki itu, otak, tulang, gerak, suara,
ingatan, hidup, mati, ... itu?
Tapi
Tuhan kata: “Ah, gampang, Aku tidak melakukan apa-apa, membiarkan
semuanya berjalan, berubah, menjadi seperti yang ada, yang hidup
sekarang ini, melalui milyaran tahun. Ha. Ha.”
Tapi bagaimana Ia
menciptakan diriNya berikut jagad raya dari tidak ada (kosong) menjadi
ada (isi), ada hidup, cuma Dia yang tahu, yang bisa. Entah kapan Ia akan
membisikkan, membuka rahasiaNya.
Pebruari 2014
Hak Setiap Orang Untuk Memiliki Dirinya.
Orang tua bukan pemilik anak-anaknya.
Istri bukan milik Suami, Suami bukan milik istri.
Mereka hanya menjadi milik kalau mereka menyerahkan diri mereka:
"Ibu milikmu" kata sang ibu pada anaknya.
"Aku milikmu" kata sang istri pada suami dan sebaliknya.
Sepasang merpati tak dapat
dibujuk untuk bercerai, sedangkan sepasang anjing tak dapat dipaksa
untuk setia seumur hidup pada pasangannya. Entah bagaimana pasangan manusia.
Juni 2009
Keberanian Menjadi Diri Sendiri, Berlainan
Kalau
semua orang merokok, minum bir, ada orang engga merokok, engga minum
bir dia itu berani.
Kalau semua orang engga merokok, engga minum bir, tapi
ada orang merokok, minum bir, dia itu juga berani.
Berani menjadi diri
sendiri, berani mempunyai pendapat, melakukan sesuatu yang berlainan.
April 2010
Desember 2009
Tiada Apapun Yang Dapat Membuat Hati Saya Taat Selain Dengan Sukarela
Agama,
pernikahan, Tuhan, manusia, aturan, hukum, perintah, ancaman tak dapat
membuat hati saya taat, tak dapat menghalangi, melarang kecuali
dengan sukarela.
Nopember 2009
Kepada umat hidup,
Saya sudah berangkat ke alam baka dimana
tidak ada lagi sakit, cacat, derita, duka, dengki, iri, musuh,
kelaparan, menjadi tua, … Salam pamit.
Sampai jumpa.
Pak Arif
Begitu dia minta saya mengirim e mail ini kalau ia meninggal.
Mei 2010
Orang Tak Bisa Memilih Ibu-bapaknya
Kata
seorang:
“Oh Tuhan mengapa saya jelek, bodoh, sakit astma, kanker,
diabetes, ...? Mengapa orang tua saya melahirkan saya kalau membawakan
sifat keturunan yang begitu jelek?”
Adakah orang yang dapat menginginkan dirinya dilahirkan sebagaimana keinginannya sendiri? Orang tak bisa memilih ibu-bapaknya.”
“Nah, bagaimana kalau ibu-bapaknya kucing? Anda mau, tidak mau, lahir sebagai kucing. Ha, ha.” Si Upik nyeletuk.
Desember 2011
Impian Di Usia Senja
Meski telah menjaga
sebaik-baiknya, makin banyak gigi saya yang rusak, tanggal dan tak bisa
ditumbuhkan kembali. Namun, saya bersyukur pada gigi-gigi itu, yang
telah melakukan tugasnya lebih dari setengah abad.
Kalau pun gigi
saya sampai habis, saya masih bisa memakai gigi buatan, bak orang
memakai wig. Kehilangan gigi saja, - orang buta malah kehilangan
penglihatannya -, mengapa harus resah?
Hawking saja kehilangan
kemampuan untuk bicara dan lumpuh. Otaknya begitu cemerlang. Ia masih
sanggup memberi kuliah, ceramah dan menulis buku-buku ilmiah.Yang masih
saya miliki dan tersisa, tak terhitung nilainya dan begitu banyak
ketimbang apa yang telah hilang dan rusak.
Begitu kata saya pada pak Arif.
Benar,
bersyukurlah, katanya. Kita patut bersyukur untuk pemberian
mata, demi mengetahui apa merah, putih, bundar, persegi, besar, kecil.
Untuk telinga, demi mengenal apa suara lembut, kuat, nada tinggi, rendah.
Untuk lidah, agar tahu bagaimana rasanya asin, manis, asam, pahit, gurih.
Untuk hidung, selain untuk bernafas, agar tahu apa harum itu, apa berbau busuk.
Untuk tangan, kaki, yang memegang, menyentuh, memeluk, bekerja, berjalan, berlari, memanjat, berenang, menari.
Untuk otak, agar bisa mengingat, mengenang, melamun, menkhayal, bernalar.
Untuk
hati, agar tahu betapa indahnya mencintai, bermimpi, pedihnya merindu,
tahu antara yang baik dan buruk, antara suka dan duka, mau pun bersyukur
untuk kelamin, yang membedakan dan menyatukan pria dan wanita dalam pasangan.
Apa
yang diberikanNya tak dapat diukur uang sebesar apa pun. Selain
menyelesaikan begitu banyak ragam tugas dengan setia setiap hari, mereka
menyimpan seribu satu kejutan yang menyenangkan.
Mata saya telah
melihat, membaca, memandang apa yang indah dan memesona, telinga saya
telah mendengar musik, suara, nyanyian amat merdu, lidah merasakan apa
yang amat lezat, hidung menghirup, mencium apa yang paling harum dan
segar bak di surga saja.
Oh, hati saya telah merasa bahagianya
hidup kala mencintai dan dicintai seorang. Betapa manisnya hidup ketika
sama-sama berlomba, bertengkar untuk boleh berkorban dan berebut untuk
saling memberikan apa yang terbaik dan terindah. Meski memiliki sedikit
pun, yang sedikit itu terasa begitu berlimpah.
Pak Arif terdiam.
Terbayang hidup tanpa mata. Gelap, apa yang bisa dilihat?
Sunyi, tanpa telinga, apa yang bisa didengar.
Suram, tanpa penciuman, tanpa ingatan, tanpa jenis kelamin dan tanpa-tanpa lainnya.
Dan
masih ada apa yang disebut kelahiran, hidup dan mati, lanjutnya. Tak
terpikir, tak terbayangkan, tak terjangkau, Seniman maha akbar macam apa
yang sanggup menciptakan jagat raya berikut segala isinya dan makhluk
hidup secemerlang itu? Begitu serunya.
Dan saya pun tersentak, terjaga dari lamunan, bersyukur atas “impian” indah ini.
Epilog
Membaca tulisan diatas, si upik dengan tersenyum berkata:
Kita
memang patut bersyukur dilengkapi dengan mata, telinga, hidung,
perasaan, lidah, namun apa yang mau dilihat kalau tidak ada siang meski
mempunyai mata?
Tidak akan ada bintang, kunang-kunang yang tampak jika tidak ada malam.
Bumi
bagaikan beku, mati jika tidak ada gerakan seperti awan yang berlayar,
air yang mengalir, pohon-pohon yang melambai, burung-burung yang
terbang, ikan-ikan yang berenang, makhluk hidup yang merangkak dan
bernafas.
Bumi akan dingin, jika tidak ada hangat, panas.
Hambar, membosankan, gersang jika tidak ada warna, keharuman dan rasa, meski dikaruniai mulut, hidung dan mata.
Dan
setelah menciptakan Maha Karya ini, Ia tidak lupa menciptakan suara.
Suara angin yang mendesau, suara ombak yang menderu, suara burung-burung
yang berkicau, bunyi gamelan yang agung, suara sinden cantik yang
merdu, bak pesta pujian, nyanyian, demi memecahkan kebisuan, kesunyian
bumi. Tanpa
adanya suara, memiliki telinga pun menjadi sia-sia.
Suara Karya, 14 Desember 1996
Berita Buana, 24 Pebruari 1997