Suatu hari pak Arif menceritakan mimpinya. Saya bermimpi ada di surga dan sekelompok penghuni surga menyapa saya dan berkata, apa masih ingat mereka?
“Tentu saja,” kata saya “kamu kan si Foxy yang sudah mati. Kalau kamu si Benji dan si Chiko, anjing-anjing saya yang masih hidup.”
“Kami
ditakdirkan menjadi anjing. Kamu makan daging, tidur di atas kasur yang
empuk, kami mah, dikasih makan tulang di piring kaleng dan mesti tidur
dikolong tempat tidur. Bukankah akunya kamu sama dengan akunya aku dan
akunya setiap insan yang lain?” si Chicko seakan memprotes. Dan saya
tersenyum malu.
“Kalau kamu kan
burung Cerukcuk yang kelabakan karena sarangmu di pohon beringin ikut
tergusur ketika batang-batangnya mesti saya potong.” Kata Pak Arif.
“Saya
pohon beringin yang dipotong batang-batangnya itu.” kata warga surga
lain, “Mengapa kau tidak berani menolak dan melindungiku, ketika
dituntut tetangga di sebelah yang marah, takut daun-daunku berjatuhan
menyumbat saluran air hujan di atapnya?”
Saya juga bertemu dengan istri saya yang telah lari dengan suami orang lain dan orang-orang yang telah menipu,
bahkan musuh terbesar yang telah membunuh saya. Alangkah mudahnya
memaafkan mereka. Saya juga bertemu semua wanita-wanita yang pernah
mencintai saya dan telah saya nikahi. Begitulah dalam impi, kata pak Arif.
Sadar
bahwa kami sebenarnya hanya pelakon, pemeran dalam cerita Sang Maha
Dalang, tanpa bisa(!) menyadari diri kami sebagai pemeran di bumi, saya
dan mereka tersenyum-senyum penuh pengertian. Mereka menyapa saya tanpa
merasa bermusuhan, cemburu, tanpa merasa mencintai, karena di surga
tiada lagi perbedaan laki, perempuan, orang tua, anak, perbedaan
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tiada lagi ada uang, siang dan
malam, ruang dan waktu. Di mataNya, kami, semua yang hidup, sama.
Dan
saya pun terjaga. Alangkah leganya saya tidak terbunuh dan masih hidup.
Saya meraba di sebelah saya. Ah, betapa bahagianya, istri saya masih
ada dan tidur dengan damai di samping saya. Betapa manis, sedapnya masih berada di
bumi. Dan saya bersyukur boleh menemukan surga di tempat tidur saat itu.
Semenjak
mimpi itu, saya menjadi lebih bertenggang rasa, menjadi lebih sayang,
sopan, manis pada si Benji dan si Chiko, terhadap pohon-pohon, tanaman,
rerumputan dan si bibi - “dialah orang yang saya sincerely (setulus-tulusnya)
paling benci,” kata istri dengan jenaka - dan tukang minyak, tukang
kerupuk dan pada orang-orang yang umumnya direndahkan, tidak dipandang
masyarakat.
Betul,
betapapun mudahnya hidup bagi orang yang bebas dari keinginan, seperti
mereka yang ada di surga. Meski saya tergoda, diamuk segala keinginan
manusiawi dengan segala suka-duka, dengan segala tawa maupun air mata.
Walau saya masih tergiur, lapar akan buah-buah terlarang dan tidak bebas
dari pesona, derita kehidupan. Namun, saya tidak rela menukar hidup
ini, dengan hidup damai dan abadi yang hanya dapat saya impikan di sana.
Saya bersyukur, kalau surga sering juga bisa saya temukan di dunia ini. Begitu cerita pak Arif.
Agustus, 1999
No comments:
Post a Comment