Wednesday, September 9, 2015

Menemukan Surga di Tempat Tidur

Suatu hari pak Arif menceritakan mimpinya. Saya bermimpi ada di surga dan sekelompok penghuni surga menyapa saya dan berkata, apa masih ingat mereka?

“Tentu saja,” kata saya  “kamu kan si Foxy yang sudah mati. Kalau kamu si Benji dan si Chiko, anjing-anjing saya yang masih hidup.”  

“Kami ditakdirkan menjadi anjing. Kamu makan daging, tidur di atas kasur yang empuk,  kami mah, dikasih makan tulang di piring kaleng dan mesti tidur dikolong tempat tidur. Bukankah akunya kamu sama dengan akunya aku dan akunya  setiap insan yang lain?” si Chicko seakan memprotes. Dan saya tersenyum malu. 

“Kalau kamu kan burung Cerukcuk yang kelabakan karena sarangmu di pohon beringin ikut tergusur ketika batang-batangnya mesti saya potong.” Kata Pak Arif.  

“Saya pohon beringin yang dipotong batang-batangnya itu.” kata warga surga lain, “Mengapa kau tidak berani menolak dan melindungiku, ketika dituntut tetangga di sebelah yang marah, takut daun-daunku berjatuhan menyumbat saluran air hujan di atapnya?” 

Saya juga bertemu dengan istri saya yang telah lari dengan suami orang lain dan orang-orang yang telah menipu, bahkan musuh terbesar yang telah membunuh saya. Alangkah mudahnya memaafkan mereka. Saya juga bertemu semua wanita-wanita yang pernah mencintai saya dan telah saya nikahi. Begitulah dalam impi, kata pak Arif.  

Sadar bahwa kami sebenarnya hanya pelakon, pemeran dalam cerita Sang Maha Dalang, tanpa bisa(!) menyadari diri kami sebagai pemeran di bumi, saya dan mereka tersenyum-senyum penuh pengertian. Mereka menyapa saya tanpa merasa bermusuhan, cemburu, tanpa merasa mencintai, karena di surga tiada lagi perbedaan laki, perempuan, orang tua, anak, perbedaan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tiada lagi ada uang, siang dan malam, ruang dan waktu. Di mataNya, kami, semua yang hidup, sama. 

Dan saya pun terjaga. Alangkah leganya saya tidak terbunuh dan masih hidup. Saya meraba di sebelah saya. Ah, betapa bahagianya, istri saya masih ada dan tidur dengan damai di samping saya. Betapa manis, sedapnya masih berada di bumi. Dan saya bersyukur boleh menemukan surga di tempat tidur saat itu. 

Semenjak mimpi itu, saya menjadi lebih bertenggang rasa, menjadi lebih sayang, sopan, manis pada si Benji dan si Chiko, terhadap pohon-pohon, tanaman, rerumputan dan  si bibi - “dialah orang yang saya sincerely (setulus-tulusnya) paling benci,” kata istri dengan jenaka - dan tukang minyak, tukang kerupuk dan pada orang-orang yang umumnya direndahkan, tidak dipandang masyarakat. 

Betul, betapapun mudahnya hidup bagi orang yang bebas dari keinginan, seperti mereka yang ada di surga. Meski saya tergoda, diamuk segala keinginan manusiawi dengan segala suka-duka, dengan segala tawa maupun air mata. Walau saya masih tergiur, lapar akan buah-buah terlarang dan tidak bebas dari pesona, derita kehidupan. Namun, saya tidak rela menukar hidup ini, dengan hidup damai dan abadi yang hanya dapat saya impikan di sana.  

Saya bersyukur, kalau surga sering juga bisa saya temukan di dunia ini. Begitu cerita pak Arif.  
                                                                                                       Agustus, 1999

No comments:

Post a Comment