Thursday, September 1, 2016

V o l i

  Voli:

Tahun 2000

Tahun 2000 seorang peneliti JVA (Japan Volley Ball Association) memasuki bagian dokumentasi perpustakaan  JVA, mengambil sebuah type script yang kertasnya sudah kecoklatan.

“Apa ini? Pemain-pemain Bola Voli yang relatip pendek” gumamnya. “Hm. Penulisnya Mr. Chew dari Indonesia. Omong kosong apa yang ia tulis disitu, pemain pendek Bola Voli dirugikan? Akan saya buktikan kebohongan ini.”

Lalu ia mulai meneliti:
Ke Biro Statistik ia menanyakan rata-rata pria, wanita Jepang. Ia mengukur tinggi pemain-pemain dari tingkat klub hingga tingkat nasional dalam kejuaraan-kejuaraan yang diadakan. Lalu membandingkannya dengan tinggi rata-rata statistik.

“Kurang ajar! Pengamatan Mr. Chew rupanya benar juga.”
Lalu ia meneliti pemain-pemain pendek dengan lompatan vertical yang paling tinggi membandingkannya dengan pemain-pemain tinggi yang lompatan vertikalnya juga paling tinggi. Kenyataannya lompatan pemain-pemain tinggi bahkan lebih tinggi dari pemain-pemain pendek. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Setelah melakukan bermacam-macam penelitian, akhirnya ia mengadakan percobaan “bending” dengan pemain-pemain pendek. Hasilnya lompatan vertical mereka meningkat mencapai 120 Cm! Percobaan dengan pemain-pemain super tinggi bahkan membawa hasil 130 Cm. Setelah mengetahui hasil penelitian dan percobaan yang ia lakukan, ia meloncat dan berteriak kegirangan:

“Informasi Mr. Chew benar, ia cuma tidak melakukan pembuktian ilmiah! Mengapa JVA begitu tolol mendiamkan tulisan itu sehingga hampir 20 tahun?”

“Klasemen Tinggi Badan yang ia sarankan itu suatu “mutiara” yang sudah ada di depan kita tinggal dipungut. Gagasan Klasemen dalam dunia tinju, Kelompok Umur sudah teruji kemampuannya. Orang tak perlu susah-susah “menyelam” untuk mencari “mutiara” baru di “lautan” peraturan-peraturan yang rumit dan dibuat-buat, yang belum tentu berhasil didapat dan bila didapat pun, belum tentu sebaik itu.”

Di Jepang orang bersorak “Banzai” merayakan diberlakukannya peraturan Klasemen Tinggi Badan.

Di tempat tidur, peneliti Jepang itu mengkhayal:
“Mengapa orang-orang Indonesia begitu bodoh membiarkan gagasan sebaik itu menghilang begitu saja sehingga  kemajuan Bola Voli mereka tetap berjalan terseok-seok saja? Apa mereka tidak menelitinya?”

“Arigato, Terima Kasih Mr. Chew” bisiknya, lalu ia pulas, puas dan berterima kasih … sebab Nipponlah menjadi pahlawannya, bukan Indonesia! Inikah yang dikendaki kita?

Dimuat Merdeka 7 Juni 1991


Kini di tahun 2016 telah melewati tahun 2000,  tetap tidak ada Bola Voli menurut Klasemen Tinggi Badan. Bola Voli Indonesia tetap berjalan terseok-seok.

No comments:

Post a Comment